Jumat, 29 Juli 2011

SIDHAT SEGARA ANAKAN 8 - 海的孩子鳗鱼

SIDHAT SEGARA ANAKAN 8 - 海的孩子鳗鱼



Di Ambang Kepunahan, Ikan Sidat Laut di Segara Anakan

Sidat laut yang banyak diburu pemilik restoran Jepang kini di ambang kepunahan. Hal itu dikemukakan oleh staf Pusat Studi Kebijakan Lingkungan (PSKL) Pusaka, Cilacap. Disebutkannya, ikan yang berkembang biak di laut selatan sekitar Segara Anakan itu termasuk dari 45 jenis ikan yang terancam punah.



Kepunahan beberapa jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi terjadi seiring dengan menurunnya kualitas kawasan pembiakan di Laguna Segara Anakan.



Menurut Direktur PSKL Pusaka, Chabibul Barnabas, ada sekira 45 jenis ikan yang terancam punah. Kepunahan ikan-ikan tersebut bukan hanya akibat eksploitasi manusia, namun juga sebagai dampak menurunnya kualitas laguna Segara Anakan. “Dari observasi yang kita lakukan di laguna tersebut, ada kecenderungan sekira 45 jenis ikan itu akan punah,” tutur Chabibul, kemarin.



Menurutnya, ancaman kepunahan ikan-ikan tersebut sudah masuk kategori serius. Hal ini disebabkan laguna tersebut sudah tidak memberikan kenyamanan bagi ikan-ikan untuk berkembang biak.
Untuk mengembalikan keadaan laguna seperti semula, pemerintah diminta segera merealisasikan projek penyodetan Sungai Citanduy yang terkatung-katung selama lima tahun.


Ikan elite

Sejumlah nelayan menyebutkan, ikan sidat bentuknya seperti belut, dan termasuk ikan elite karena harganya sangat mahal. Ikan yang hidup di air tawar menjadi menu favorit restoran Jepang di Jakarta. Harga ikan Sidat mencapai Rp 100.000,00 per porsi.



Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Dr. Rubijanto Misman, mengatakan, kelezatan ikan Sidat terletak pada kandungan lemaknya. Termasuk ikan istimewa, karena sudah menjadi hewan langka dan hanya hidup di daerah tertentu seperti di Segara Anakan Cilacap.



Sayangnya ikan Sidat laut sulit dibudidayakan. Sampai saat ini belum ada upaya untuk penangkaran ikan yang berkembang biak di air payau dan masa dewasanya dihabiskan di bagian hulu sungai. Sulit ditangkarkan, karena ikan ini mengalami beberapa siklus yang cukup unik.



Selama migrasi, menurut Rubijanto, merupakan proses yang paling rawan. Saat itu, tingkat kematian cukup tinggi dan biasanya yang bertahan sampai ikan menjadi dewasa tidak kurang dari 40 persennya. “Untuk itulah ikan Sidat dianggap sebagai hewan yang langka. Kondisi ini diperparah dengan semakin menurunnya kualitas di kawasan Segara Anakan,” kata Rubijanto.




Lumpur Sungai Citanduy

Menyinggung tentang sedimentasi, Chabibul Bernabas mengatakan, sedimentasi yang terjadi di Laguna Segara Anakan sudah sangat parah. Untuk itulah, PSKL Pusaka mendesak pemerintah menyelamatkan Segara Anakan.



“Laguna tersebut kini terancam hilang, akibat tingkat sedimentasi (pendangkalan) yang sangat cepat oleh lumpur yang terbawa Sungai Citanduy serta beberapa sungai kecil lainnya,” tutur Chabibul.



Sedangkan 250.000 meter kubik lainnya dari beberapa sungai kecil yang bermuara di Segara Anakan, antara lain Sungai Cimeneng, Cibeureum, dan Cikonde. “Dampak sedimentasi tidak hanya pendangkalan dan penyempitan laguna, tetapi juga hilangnya potensi ikan, udang serta berbagai jenis biota laut di pesisir selatan Pulau Jawa,” ujarnya.



Selain itu, lanjut dia, sedimentasi telah mengakibatkan terbentuk pulau-pulau kecil di perairan itu. Pulau-pulau tersebut bermunculan secara sporadis di kawasan laguna. Bahkan, ada sebuah pulau yang terbentuk akibat sedimentasi selama 30 tahun lebih dan kini berubah menjadi daratan yang menyatu dengan Pulau Nusakambangan.



Dia mengatakan, sedimentasi yang begitu cepat menunjukkan telah terjadi degradasi lingkungan/ekosistem pada daerah hulu hingga sepanjang daerah aliran Sungai (DAS) Citanduy dan sungai-sungai kecil lainnya. Akibatnya, kualitas dan kuantitas komponen ekosistem, baik hayati maupun nonhayati menurun drastis.




Kampung Laut

Menurut staf peneliti Pusaka, Dahman Aspari, kondisi perairan Segara Anakan saat ini berbeda jauh dibanding Segara Anakan 20 tahun lalu.



Segara Anakan yang sebelumnya mampu menghidupi belasan ribu nelayan di Kampung Laut dan sekitarnya, kini berubah menjadi perairan yang tidak lagi memiliki potensi (kekayaan) seperti aneka jenis ikan dan udang.
(A-99/A-100)



Sumber: Pikiran Rakyat



http://www.agromaret.com/artikel/89/di_ambang_kepunahan_ikan_sidat_laut_di_segara_anakan















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar