Jumat, 29 Juli 2011

SIDHAT SEGARA ANAKAN 9 - 海的孩子鳗鱼

SIDHAT SEGARA ANAKAN 9 - 海的孩子鳗鱼





Laju Sedimentasi Laguna Segara Anakan Cilacap 1 Juta Meter Kubik Per Tahun





Laju sedimentasi Segara Anakan di Cilacap, Jawa Tengah, semakin mengkhawatirkan. Setiap tahun, sebanyak 1 juta meter kubik sedimen memenuhi laguna terbesar di Indonesia tersebut. Kepala Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA) Supriyanto, mengatakan, dari jumlah sedimen per tahun tersebut, sebanyak 750.000 meter kubik di antaranya digelontorkan dari Sungai Citanduy, sisanya dari Sungai Cimeneng.



Sekarang luas laguna kurang dari 800 hektar atau seperlima dibandingkan luasan pada tahun 1984 yaitu sekitar 3.800 hektar. Selain menyempitkan laguna, material sedimentasi merusak habitat biota laguna beserta ekosistem di dalamnya. Sejak tahun 1904, sedimentasi di laguna lebih dari 5 juta meter kubik.



Jika tidak segera ditangani, penumpukan sedimen di laguna semakin tinggi. Saat ini celah Plawangan yang menghubungkan Segara Anakan dan laut lepas mulai tertutup sedimen. Padahal, celah Plawangan sangat penting untuk mengalirkan sedimen dan air ke laut. Selain itu menjadi jalur pintu masuk biota laut untuk memijah di laguna. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di Citanduy dan Cimeneng menjadi penyebab sedimentasi. Sebagian besar DAS Citanduy berada di Jawa Barat.



Untuk mengatasi sedimentasi, BPKSA bekerja sama dengan instansi terkait akan melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Segara Anakan. Hal itu meliputi pembenahan aliran sungai, budidaya perikanan, dan pemanfaatan air hujan untuk sumber air. Langkah ini ditempuh karena sedimentasi mengakibatkan jatuhnya ekonomi masyarakat serta krisis sumber air bersih.



Pada tahun 2011, Segara Anakan akan dikeruk, khususnya di celah Plawangan. Deputi III Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Emil Agustiono mengatakan, diperlukan strategi besar untuk menyelesaikan masalah Segara Anakan, termasuk normalisasi DAS Citanduy. (Kompas, Sedimentasi 1 Juta Meter Kubik Per Tahun, Kamis 9 Juli 2009)




TIPOLOGI SEGARA ANAKAN CILACAP







Tanah dan Geologi



Secara genesis, Segara Anakan terbentuk sebagai produk kegiatan tektonik, melalui proses pembentukan zona depresi Citanduy, yaitu zona yang relatif datar dan rendah yang terjadi karena merosok turun ke bawah sehingga mempunyai ketinggian lebih rendah dari wilayah sekitarnya. Zona depresi ini terbentang luas dari Pedataran Banjar sampai ke Cilacap, sepanjang lebih dari 50 kilometer dan lebar sekitar 15 kilometer, dibatasi sesar-sesar besar, yang justru sebagai penyebab merosoknya zona depresi itu (Wibisono, 2000).



Pasang Surut



Perairan Segara Anakan dalam waktu satu hari (24 jam) terjadi 2 kali pasang dan 2 kali surut atau disebut dengan tipe diurnal. Hal ini sesuai dengan pasang surut yang terjadi diperairan laut bebas. Pasang tertinggi terjadi pada pukul 11.00-17.00 dan pukul 23.00-02.00, surut terendah terjadi pada pukul 22.00-02.00 dan pukul 17.00-19.00.



Air laut dari samudara Hindia masuk ke Segara Anakan melalui dua arah, dari sebelah timur air laut masuk melalui Sungai Donan yang merupakan celah pasang surut dan dari barat melalui celah Nusawere. Aliran air yang paling berpengaruh terhadap perairan di Segara Anakan adalah yang melalui Nusawere yang terletak di sebelah barat Pulau Nusakambangan. Saat pasang air laut dan air tawar yang tercampur didistribusikan ke Sungai Citanduy ke laguna utama dan sungai-sungainya yang ada dan ke hutan mangrove. Massa air yang melewati muara sebelah barat saat banjir, merupakan pencampuran air tawar dan air laut. Saat surut air tawar dari Sungai Citanduy langsung masuk ke Lautan Hindia melewati muara sebelah barat. Sebagian besar air ini, serta sedimen yang dibawanya akan tetap dimuara tersebut, terutama saat arus laut lemah. Setelah tercampur dengan air laut, air ini mengalami resirkulasi menuju laguna selama pasang tertinggi berikutnya.








Vegetasi



Vegetasi mangrove yang berada di Kawasan Segara anakan merupakan merupakan yang terluas di Pulau Jawa yang masih tersisa (LPP Mangrove.1998). Jenis-jenis tumbuhan di hutan mangrove Segara Anakan Cilacap yaitu:
  • Avicennia alba (Api-api),
  • Avicennia marina (Api-api),
  • Avicennia oficinalis (Api-api),
  • Sonneratia alba (Bogem/Perepat),
  • Rhizophora mucronata (Bakau Gandul),
  • Rhizophora apiculata (Bakau kacangan),
  • Bruguiera gymnorrhiza (Tancang),
  • Bruguiera parviflora (Tanjan),
  • Xylocarpus granatum (Nyirih),
  • Xylocarpus moluccensisi Lam (Nyuruh),
  • Cerbera manghas Linn (Bintaro),
  • Heritiera littoralis (Dungun),
  • Aegiceras corniculatum (Gedangan),
  • Excoecaeia agallocha (Buta-buta atau kayu getah),
  • Ficus retusa (Panggang),
  • Premna obtusifolia (Singkil),
  • Dolichaudrone spathacea (Jaranan),
  • Nypa fruticans (Nipah),
  • Achanthus ilicifolius (Drujon, jerujon),
  • Derris heterophylla (Godelan, Gadelan),
  • Acrostichum aureum (Warakas),
  • Clerodendron maraecoset (Glontang warak),
  • Atalantia trimera oliv (Jerukan),
  • Lumnitzera littorea (Kayu duduk, Teruntum Merah),
  • Amalan,
  • Corypha uton (Gebang),
  • Ceriops Tagal (Tingi),
  • Hibiscus tiliaceus (Waru, kembang kuning)
  http://www.kesimpulan.com/2009/07/laju-sedimentasi-laguna-segara-anakan.html






SEDIMENTASI DI SEGARA ANAKAN CILACAP



Oleh : Sena Wiratama Sumantri Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Padjadjaran



Pengertian Segara Anakan

Segara anakan disebut juga Laguna (atau lagoon dalam bahasa Inggris) adalah sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya. Jadi, air yang tertutup di belakang gugusan karang (barrier reef) atau pulau-pulau atau didalam atol disebut laguna.
Istilah lagoon dalam bahasa Inggris dimulai tahun 1769. Diadaptasi dari laguna Venesia (cf Latin lacuna, ‘ruang kosong’), yang secara khusus menunjuk ke pembatas Venesia, tanah pembendung air laut, yang melindungi dari Laut Adriatik dengan pantai penghalang Lido (lihat Laguna Venesia). Laguna menunjuk ke laguna pantai yang terbentuk oleh pasir atau karang di pantai yang dangkal dan laguna atol yang terbentuk dari pertumbuhan terumbu karang. Dari bahasa Inggris inilah kata laguna dalam bahasa Indonesia berasal.
Laguna pantai biasa ditemukan di pantai dengan pasang surut relatif kecil. Ia mencakup kira-kira 13 persen dari keseluruhan garis pantai. Umumnya memanjang sejajar dengan pantai dan dipisahkan dari laut oleh pulau penghalang, pasir dan bebatuan atau terumbu karang. Penghalang laguna bukan karang dibentuk oleh aksi gelombang atas arus pelabuhan yang terus menerus membuat sedimen kasar lepas pantai. Sekali penghalang laguna terbentuk, sedimen yang lebih runcing bisa menetap di air yang relatif tenang di belakang penghalang, termasuk sedimen yang dibawa ke laguna oleh sungai. Khasnya laguna pesisir memiliki bukaan sempit ke laut. Sebagai akibatnya, keadaan air dalam laguna bisa agak berbeda dari air terbuka di laut dalam hal suhu, salinitas, oksigen yang dibebaskan dan muatan sedimen.


Perhatian terhadap Segara Anakan

Membicarakan sedimentasi Sungai Citanduy dan sungai lain berarti pergulatan menyelamatkan perairan dan Laguna Segara Anakan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.Laguna itu memang mengalami pendangkalan dan kehilangan ekosistem uniknya yang merupakan habitat dan tempat pemijahan ikan, udang, dan biota laut lainnya di selatan Pulau Jawa.
Perhatian mengenai hal ini telah dimulai sejak tahun 1931. Pada saat itu pejabat pemerintahan colonial belanda yaitu De Haan yang menaruh perhatian terhadap hutan mangrove. Ia khawatir, tingginya tingkat sedimentasi yang masuk dan mengendap di Perairan Segara Anakan akan menyebabkan pendangkalan di Laguna Segara Anakan.
Kekhawatiran De Haan menjadi kenyataan. Kini perairan yang terletak di selatan Cilacap dan berbatasan dengan Pulau Nusakambangan di sebelah timur dan wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, itu nyaris tinggal hikayat.


Kondisi Segara Anakan di Cilacap

Luas kawasan Segara Anakan dari tahun ke tahun kian menyusut akibat pendangkalan atau sedimentasi lumpur yang dibawa Sungai Palindukan, Cikonde, Cianduy, serta sungai lainnya yang bermuara di laguna tersebut.
Menurut data yang dimiliki Pusat Studi Kebijakan Lingkungan (PUSAKA), pada tahun 1903 luas kawasan segara anakan tercatat 6.450 hektare (ha), tahun 1992 menjadi 1.800 ha, dan tahun 2001 menyusut menjadi 1.200 ha, dan Maret 2006 hanya tersisa tidak lebih dari 834 ha.
Endapan lumpur yang dibawa beberapa sungai yang bermuara di Segara Anakan tiap tahun kurang lebih 5 juta meter kubik. Sehingga meskipun telah dilakukan pengerukan secara periodik, kontribusi lumpur dari sejumlah sungai itu mengakibatkan luas laguna kian menyempit.
Kondisi yang sangat memprihatinkan adalah di alur Plawangan Barat Nusakambangan yang kini menyempit hingga berjarak sekitar 60 m antara pulau Jawa dan Nusakambangan.


Kawasan Unik

Laguna Segara Anakan menyimpan sejumlah keunikan. Berlokasi di daerah muara di pantai selatan Jawa Tengah, tempat ini memiliki kawasan mangrove yang masih tersisa di Jawa. Malahan, sejumlah catatan menunjukkan kawasan mangrove di Segara Anakan adalah kawasan terluas di wilayah paling padat penduduk di Indonesia. Tentu saja, kawasan mangrove itu mendukung kehidupan minimal 85 jenis burung, termasuk bangau bluwok (Mycteria cinerea) dan bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) keduanya tercatat sebagai burung terancam punah.
Kehidupan burung air dapat menjadi indikator kehidupan hayati Segara Anakan. Secara umum burung air di kawasan ini tersebar berdasar kondisi lahan basah yang berada di wilayah tersebut serta kecendrungan pola penyebaran masing-masing jenis burung.
Kawasan mangrove di tanah Jawa sudah semakin langka dan di kawasan ini kabarnya paling luas di Dunia setelah Negara Brazil. Di kawasan mangrove kita dapat melihat kehidupan keanekaragaman hayati yang unik. Yang paling gampang, perilaku burung-burung air.
Pada kawasan hutan mangrove maupun paparan lumpur dan sekitarnya ditemukan burung yang dilindungi, di antaranya: cangak abu, kuntul besar, kuntul perak, kuntul kecil, bluwok, bangau tong-tong, camar, raja udang, burung madu, dan elang ikan. Selain burung dilindungi, juga ditemukan jenis burung migran dari belahan bumi utara: trinil, gegajahan dan cerek.
Pada bagian areal mangrove hutan campuran dari Sungai Ujung Alang ke timur hingga Sungai Bengawan ke selatan sampai daerah Jojog dan ke barat mulai Sungai Kembangkuning sampai dekat Motean ditemukan 32 jenis burung dan 13 jenis di antaranya termasuk burung yang dilindungi.
Sayangnya, kawasan Segara Anakan dari tahun ke tahun terus mendapat tekanan. Sebagian besar tekanan itu disebabkan oleh aktivitas manusia. Sebut saja, konversi hutan mangrove menjadi tambak, pencurian kayu mangrove untuk kayu bakar hingga ancaman perburuan burung air menjadi penyebab tersingkirnya beberapa spesies burung air yang ada di sini.
Penebangan kawasan hutan mangrove memang sudah terbukti menyebabkan luas hutan Segara Anakan terus menyusut. Dari 21.000 ha saat ini diperkirakan tinggal 6800 ha saja. Tentu, penyusutan hutan akan berdampak pada kehidupan dan populasi ikan, udang dan biota laut lainnya. Kabarnya, kawasan sisa-sisa hutan mangrove tak lagi menjadi persinggahan burung-burung bangau Australia yang bermigrasi. Pasalnya, sudah terlalu susah untuk mematuk ikan atau udang.


Ekonomi

Ekosistem Segara Anakan yang terdiri dari kawasan hutan mangrove, muara berbagai sungai, dan bentuknya sebagai laguna, sangat kaya nutrien. Itu sebabnya Laguna Segara Anakan kaya akan sumber daya ikan. Lebih dari 45 jenis ikan ada di sana, baik jenis ikan yang menetap seperti ikan prempeng (Apogon aerus) dan yang bermigrasi seperti sidat laut (Anguilla sp).
Sumber daya biota laut lain di perairan ini adalah ikan�ikan kecil yang merupakan mata rantai pangan bagi berbagai jenis ikan di Samudra Hindia. Ada juga larva dan post larva berbagai jenis ikan dan udang di beberapa alur. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara perairan lepas pantai dengan Segara Anakan.
Hasil penelitian Richard Dudley dari Australia tahun 2000 memperlihatkan, potensi ikan dan biota laut di kawasan Segara Anakan terus menurun dibanding tangkapan 10 tahun silam. Kendati demikian, Segara Anakan masih dapat menopang kehidupan warga setempat sebagai sumber mata pencaharian.
Data menunjukan, hingga kini Kecamatan Kampung Laut dihuni oleh 14.407 jiwa pada areal seluas 139,59 ha. Tercatat tidak kurang dari empat desa berada di wilayah yang bila dilihat melalui peta berhimpitan dengan pulau Nusa Kambangan. Yakni Desa Kleces dihuni oleh 1.211 jiwa, desa Panikel terdapat 4.650 jiwa, desa Ujunggalang 4.658 jiwa dan desa Ujunggagak 3.888 jiwa.
Beberapa yang masih potensial antara lain adalah kepiting bakau, yang menurut Dudley nilai jualnya setiap tahun dapat mencapai Rp 3 milyar, atau udang yang hasil tangkapannya senilai Rp 2,625 milyar lebih per tahun, ikan yang mencapai Rp 3,750 milyar per tahun, atau kerang totok senilai Rp 1,875 milyar per tahun. Apabila ditotal nilainya bisa Rp 11,25 milyar. Padahal, 10 tahun lampau nilai hasil tangkapan dari Laguna mencapai 25 juta dollar AS per tahun atau setara dengan Rp 225 milyar saat ini.
Kemudian lembaga independen Amerika Serikat (ECI/Engineering Consultant Incorporation) yang juga meneliti Segara Anakan menyebutkan, 94 persen udang di perairan lepas pantai selatan Pulau Jawa menggunakan Laguna Segara Anakan sebagai tempat pembiakannya.
Konsep paling baru untuk menyelamatkan perairan dan laguna serta kawasan hutan mangrove adalah memindahkan muara Sungai Citanduy. Dengan membuat sudetan sepanjang 3 kilometer, muara sungai yang semula di Perairan Segara Anakan di geser ke Teluk Nusawere di Kabupaten Ciamis. Ini berdasarkan hasil studi yang menyatakan sebaran lumpur dari Citanduy nantinya akan terbuang melebar sejauh satu sampai dua kilometer, paling jauh lima kilometer dari Nusawere.
Pembuatan sudetan Citanduy tidak hanya menyelamatkan Segara Anakan tetapi juga mengurangi genangan banjir, tidak hanya di daerah hilir seperti Sidareja, Patimuan, Wanareja, Karunganten di wilayah Cilacap, tetapi juga puluhan desa di Kabupaten Ciamis.
Banjir akibat luapan Citanduy memang hampir setiap tahun menggenangi belasan desa di wilayah Kecamatan Patarunan, Langensari, Lakbok, Padaherang, dan Kecamatan Kalipucang yang menimbulkan kerugian Rp 15 milyar per tahun. Di Kecamatan Lakbok misalnya, dari areal persawahan seluas 6.014 ha yang merupakan daerah irigasi teknis yang mengandalkan suplai air dari Citanduy, 18 persen atau setara dengan 1.100 ha terkena dampak langsung luapan Citanduy.
Melihat kerugian yang begitu besar, sudetan Citanduy perlu segera direaliasikan. Jika tidak, kerugian lebih besar bakal dialami petani di wilayah Cilacap maupun Ciamis.


Aset Nasional Terancam

Sedimentasi di Segara Anakan tidak hanya menjadi faktor utama penyebab banjir, namun sudah mengancam keberadaan aset nasional kilang PT. Pertamina (Pearsero) UP IV Cilacap serta sejumlah industri lainnya.
Apalagi, proses sedimentasi bukan hanya dari lumpur Citanduy, tetapi juga sejumlah sungai lainnya, antara lain Sungai Cimeneng dan Sungai Cibeureum.
Sedimentasi Segara Anakan tidak hanya menyebabkan banjir, namun juga mengganggu alur pelayaran kapal tanker pemasok minyak mentah (crude oil) ke pelabuhan khusus Pertamina Lomanis Cilacap.
Setiap dua tahun sekali PT. Pertamina (Persero) harus melakukan pengerukan lumpur pada alur tanker hingga ke pelabuhan dalam Bengawan Donan sejauh 3 km. Frekuensi pengerukan diperkirakan akan terus meningkat, mengingat proses sedimentasi semakin cepat.
Setiap tahun, penambahan ketebalan lumpur di alur kapal tanker di area 70 Pertamina UP IV mencapai 75 cm. Artinya, setiap dua tahun endapan lumpur bertumpuk setinggi 1,5 meter. Padahal, tanpa ada pengerukan dapat dipastikan pasokan minyak mentah dari negara Timur Tengah terganggu. Tentu saja Pertamina tidak ingin menuai protes dari International Marine Organization ( IMO ) dan negara pengekspor minyak, sehingga secara berkala harus melakukan pemeliharaan alur dengan pengerukan.
Menurut data dari PT. Pertamina (Persero) Cilacap, pengerukan lumpur terakhir dilaksanakan 2003 dengan volume lumpur yang diangkat mencapai 375.000 m3 dan sekali pengerukan dibutuhkan biaya Rp 4,8 miliar. Dana itu sengaja dianggarkan sebagai biaya operasional, meskipun pengguna perairan area 70 bukan hanya Pertamina tetapi industri lainnya.


Pro dan Kontra

Meskipun upaya penyelamatan ini sudah matang, namun tidak serta merta rencana tersebut dapat dilaksanakan. Tanggapan masyarakat setempat belum semuanya senada. Ada yang setuju ada juga yang tidak. Pasalnya, menurut mereka yang belum seirama berpendapat, memang Segara Anakan bisa diselamatkan, tapi sebaliknya, Teluk Nusawere akan menjadi korban. Nusawere menurut mereka, merupakan daerah tangkapan ikan yang potensial bagi nelayan Ciamis. Masalah ini pun akhirnya meresahkan mereka, kawatir hasil tangkapan ikannya akan berkurang.
Bukan cuma itu, menurut beberapa kalangan anggota DPR-D Ciamis, yang masih keberatan upaya penyodetan ini dilakukan, membayangkan buangan lumpur di mulut sodetan akan terseret sampai ke pantai wisata Pangandaran. Tapi, mungkinkah lumpur itu akan terbawa arus sampai ke pantai Pangandaran yang berjarak 25 km itu?
Apa yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat ini terlalu jauh, karena lumpur-lumpur itu akan menyebar terkena gelombang lautan bebas yang besar, bahkan akan mengarah ke tengah lautan samudera Hindia itu. Jadi, sangat kecil sekali kemungkinan lumpur-lumpur dari sodetan harus mengembara sampai ke pantai Pangandaran dengan jarak sejauh itu.
Silang pendapat mengenai rencana ini memang masih ada, tetapi pertemuan-pertemuan antara masyarakat, pihak Proyek Citanduy yang akan melaksanakan pekerjaan ini beserta pemda dan pihak DPR-D dari ke dua kabupaten itu terus dilakukan untuk menyamakan persepsi dan mencari titik temu. Meski pihak pemda Ciamispun akhirnya memahami rencana tersebut namun masih ada sebagian kelompok masyarakat yang belum iklas, sehingga kegiatan konstruksi proyek penyelamatan Segara Anakan ini belum bisa dilanjutkan.


Laboratorium Alam

Ekosistem mangrove Segara Anakan yang berpotensi memiliki fungsi sosial ekonomi tinggi ini harus diselamatkan adalah jelas semua pihak setuju. Dengan demikian, kelanjutan siklus kehidupan ikan, udang, kepiting, dan fauna lain pada umumnya, termasuk burung, aneka reptil, dsb., di laguna ini dapat dipertahankan. Sebab, semua itu sangat erat terkait dengan kepentingan atau hajat orang banyak.
Laguna ini merupakan tempat berkembang biak dan tempat membesar atau berkembangnya anak-anak satwa laut itu sebelum kemudian keluar melalui muara laguna ke laut lepas, Samudera Hindia, untuk selanjutnya ditangkap para nelayan. Oleh karena itu, Segara Anakan harus diselamatkan. Hal itu penting buat menunjang keberlanjutan produk perikanan laut setempat yang sangat erat berkaitan langsung dengan kondisi sosial ekonomi nelayan.
Juga, sebagai prasarana transportasi laut antar kecamatan dan pusat-pusat keramaian di tepi barat, selatan, dan timur perairan Segara Anakan. laguna ini adalah sangat vital. Potensi lain laguna ini adalah laboratorium alam bagi para peneliti dalam dan luar negeri dari aneka disiplin ilmu bio-geo-fisik dan sos-ek-bud-kum.
Karena, laguna ini kaya akan aneka fenomena yang dapat dikaji dari sisi salah satu atau bahkan dari sisi terpadu interdisiplin tersebut. Katakanlah, sebagai contoh dari banyak fenomena alami maupun sosial, masalah tanah timbul dapat dipandang sebagai satu fenomenon sosekbudkum yang khusus. Selain juga sebagai bahan kajian yang menarik dari salah satu aspek dinamika kebumian (geodinamika) dan lingkungan yang bisa dikaitkan dengan kajian ekosistem setempat.
Laboratorium alam ini sangat berharga sebagai objek kajian yang tersedia untuk sarana belajar para peneliti muda dan anak-anak sekolah mulai dari para pelajar SD sampai kakak-kakaknya para mahasiswa perguruan tinggi untuk belajar mengamati fenomena geologi lingkungan setempat yang memiliki ciri khas sebagai fenomena khusus dan tidak dijumpai atau langka di wilayah lain.
  http://snetonline.wordpress.com/2010/04/30/sedimentasi-di-segara-anakan-cilacap/






Ancaman Banjir Meluas

Sungai Citanduy yang mengalir di Kota Banjar telah dibelokkan 
di Purwaharja dalam proyek Citanduy Ciwulan. 
Proyek ini bertujuan untuk mengaliri sawah di daerah Langensari. 
Deposit pasir juga ditemukan di beberapa bagian sungai.


Luas perairan Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah, sekarang ini semakin sempit, tinggal 600 hektar dari 4.000 hektar pada tahun 1980-an lalu. Penyempitan itu menyebabkan ancaman banjir tahunan semakin meluas.
Kepala Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Cilacap Mudjiono, Rabu (30/4), mengatakan, sudah setahun ini kawasan banjir tahunan di sekitar Laguna Segara Anakan mulai meluas.
Hingga setahun lalu, kawasan langganan banjir tahunan masih di sekitar Kecamatan Kawunganten dan Sidareja. Namun pada tahun ini mulai mengenai Kecamatan Cipari, Bantarsari, dan Binangun.
Mudjiono mengatakan, fungsi utama dari Laguna Segara Anakan itu sendiri memang untuk menampung limpasan air dari beberapa sungai di Cilacap dan Ciamis, Jawa Barat. Namun dengan laju sedimentasi lumpur yang begitu cepat dari Sungai Citanduy, menyebabkan laguna tak lagi mampu menampung limpasan air dari sejumlah sungai.
Dia memperkirakan jika tak ada penanganan yang serius terhadap penyelamatan Laguna Segara Anakan, dalam 5 tahun ke depan laguna itu akan menjadi daratan. "Dampaknya, kawasan sekitar Segara Anakan hingga hilir Citanduy akan terendam banjir setiap tahunnya," katanya. (MDN)


  http://nasional.kompas.com/read/2008/04/30/14084458/laguna.segara.anakan.menyempit.ancaman.banjir.meluas 






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar