Minggu, 08 Mei 2011

BUDIDAYA SIDHAT 2

BUDIDAYA SIDHAT 2


Berkah dari Budidaya Ikan Sidhat

Ikan Sidhat atau unagi banyak dikonsumsi sebagai makanan mewah di Jepang, Hongkong, dan Korea karena kandungan tinggi protein dan omega-3 yang berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Namun, benih ikan Sidhat yang banyak di perairan Indonesia belum banyak dimanfaatkan di negeri sendiri.
Di Indonesia, paling sedikit ada enam jenis ikan Sidhat (Anguilla sp), yaitu Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.
Melihat peluang pasar yang besar, Syaiful Hanif (32) dan sepuluh rekannya yang tergabung dalam Paguyuban Patra Gesit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mulai menjajaki usaha budidaya ikan Sidhat pada akhir tahun 2008.
Teknik pembesaran ikan Sidhat awalnya dipelajari Syaiful di Balai Layanan Umum Pandu Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segmentasi ikan Sidhat bicolor dipilih dengan benih yang didapat dari hasil tangkapan alam.
Bermodal sedikit pengalaman, paguyuban yang dipimpin Syaiful itu lantas mengajukan kredit lunak pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pertamina Tbk Rp 1,2 miliar untuk jangka waktu 3 tahun.
Kemudian, dana sebesar itu digunakan untuk membeli lahan seluas 2 hektar di Desa Lamaran Tarum, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.
Selain itu, dana itu untuk membangun 10 petak kolam ikan berukuran masing-masing 20 x 30 meter persegi, pembelian benih ikan Sidhat, serta persiapan sarana dan prasarana produksi. Di antaranya peralatan diesel mengingat di wilayah itu belum ada jaringan listrik yang memadai.
Setelah lahan disiapkan, Syaiful dan rekan-rekannya mencoba mempraktikkan pembesaran ikan Sidhat bicolor di lahan mereka. Namun, usaha pembesaran ikan Sidhat bicolor ternyata tidak mudah. Bicolor yang biasa hidup di arus pertemuan air sungai dan air laut sulit beradaptasi di kolam air tawar.
Negara tujuan ekspor
Ikan Sidhat adalah jenis karnivora (pemakan ikan) yang memiliki sifat katadromos, yaitu awalnya berkembang biak di laut dan selanjutnya mencari perairan umum (air tawar) untuk membesarkan diri.
Sifat itu membuat ikan Sidhat sulit beradaptasi dan mengubah pola makan di habitat baru kolam air tawar. Tingkat pertumbuhan ikan bicolor juga tidak merata karena ukuran benih yang ditebar tidak seragam. Usaha mereka pun berada di ambang kehancuran.
Namun, Syaiful tidak menyerah. Ia lantas menekuni riset pembesaran ikan Sidhat selama hampir setahun. Proses aklimatisasi diterapkan berupa penyesuaian lingkungan, temperatur, serta sortir benih ikan sebelum disimpan di kolam.
Dengan perlakuan khusus, ikan Sidhat bicolor yang biasanya makan ikan lain itu berubah kebiasaan menjadi rakus makan pelet. Berpijak dari hasil riset tersebut, Syaiful dan teman-temannya melanjutkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung beralih dengan membidik segmentasi ikan Sidhat marmorata yang permintaan dan harganya di pasar internasional jauh lebih tinggi.
Ikan Sidhat marmorata terbukti tumbuh subur dengan tingkat hidup (SR) 80 persen. Jika dalam kurun 6 bulan pertumbuhan benih Sidhat hanya dari ukuran 0,2 gram menjadi 40 gram per ekor, dalam bulan ke-7 sampai ke-10 benih tumbuh pesat dari ukuran 40 gram ke 1 kilogram (kg) per ekor.
Pada panen perdana bulan Januari 2010, paguyuban itu menghasilkan panen Sidhat sebanyak 500 kg dan seluruhnya diekspor. Ekspor ikan hidup dengan bobot lebih dari 500 gram per ekor, harga jualnya berkisar Rp 120.000-Rp 160.000 per kg. Harganya akan semakin mahal jika bobot ikan lebih dari 1 kg per ekor, yakni Rp 120.000-Rp 180.000 per kg.
Pasar utama ekspor ikan Sidhat adalah Hongkong, China, dan Taiwan. ”Minat pasar ekspor yang tinggi terhadap ikan Sidhat membuat hasil produksi selalu terserap pasar, berapa pun jumlahnya,” ungkap Syaiful.
Ia mengakui tidak sulit mencari benih ikan. Beberapa kawasan perairan yang banyak terdapat benih ikan Sidhat di antaranya di pesisir Sumatera bagian barat, Sulawesi, dan pantai selatan Jawa yang berbatasan dengan laut dalam. Harga benih Sidhat marmorata Rp 120.000 per kg dengan ukuran benih 25 gram per ekor.
Sayangnya, seiring maraknya permintaan di pasar internasional, penyelundupan benih ikan Sidhat ke negara lain terus terjadi, di antaranya ke Jepang.
Penyelundupan di beberapa tempat itu mendongkrak harga benih marmorata hingga mencapai Rp 2,5 juta per kg.
Syaiful mengaku khawatir, dengan teknologi budidaya Sidhat di Tanah Air yang belum berkembang luas, bukan tidak mungkin masyarakat Jepang kelak akan mencuri start dalam pembudidayaan ikan Sidhat secara luas.
”Indonesia adalah negeri produsen benih ikan yang besar dan kaya. Tetapi, jika potensi itu tidak dimanfaatkan optimal, bisa dipastikan rakyat Indonesia sulit memperoleh nilai tambah dari perikanan,” ujar pria yang sebelumnya menekuni bisnis penjualan pulsa itu.
Salah satu ambisinya dalam waktu dekat adalah memperluas pemasaran ikan Sidhat ke pasar-pasar dalam negeri. ”Kalau pasar ekspor dengan mudah bisa ditembus, kenapa pasar dalam negeri justru tidak melihat potensi ini,” papar Syaiful.
Ia menargetkan produksi ikan Sidhat pada panen kedua bulan Juli 2010 bisa mencapai 1 ton. Ia pun berencana memberdayakan masyarakat sekitar dengan menularkan teknik pembesaran ikan Sidhat ke warga Indramayu.
Caranya, melepas benih ikan Sidhat berukuran 100 gram kepada warga untuk dibesarkan sampai ukuran 500 gram, kemudian ditampung kembali untuk dipasarkan.
Pria lulusan politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini berharap pemerintah memiliki regulasi yang tegas untuk mengembangkan benih ikan Sidhat, memperluas teknologi budidaya lewat pemberdayaan masyarakat, serta menekan penyelundupan benih yang merugikan perikanan budidaya. (Kompas)
 




BUDIDAYA Sidhat
PADA JARING APUNG

1. PENDAHULUAN

Ikan Sidhat (anguilla bicolor), termasuk famili Anguillidae, ordo Apodes. Di Indonesia diperkirakan paling sedikit terdapat 5 (lima) jenis Ikan Sidhat, yaitu : Anguilla encentralis, A. bicolor bicolor, A. borneonsis, A. Bicolor Pacifica, dan A. celebensis.


Ikan Sidhat tumbuh di perairan tawar (sungai dan danau) hingga mencapai dewasa, setelah itu Ikan Sidhat dewasa beruaya ke laut dalam untuk melakukan reproduksi. Larva hasil pemijahan akan berkembang, dan secara berangsur-angsur terbawa arus ke perairan pantai. Ikan Sidhat yang telah mencapai stadia elver (glass eel) akan beruaya dari perairan laut ke perairan tawar melalui muara sungai.


Ruaya anadromous larva Sidhat (elver) berhubungan dengan musim. Diperkirakan ruaya larva Ikan Sidhat dimulai pada awal musim hujan, akan tetapi pada musim tersebut faktor arus sungai dan keadaan bulan sangat mempengaruhi intensitas ruayanya.

Ikan Sidhat termasuk ikan karnivora. Di perairan umum Ikan Sidhat memakan berbagai jenis hewan, khususnya organisme benthik seperti crustacea (udang dan kepiting), polichatea (cacing, larva chironomus dan bivalva serta gastropods). Aktivitas makan Ikan Sidhat umumnya pada malam hari (nokturnal).



Ikan Sidhat telah dibudidayakan secara intensif di Eropa khususnya di Norwegia, Jerman dan Belanda serta Asia, yaitu : Jepang, Taiwan dan China daratan. Di negara-negara lain seperti Australia, Indonesia dan beberapa negara Eropa dan Afrika Barat umumnya produksi Ikan Sidhat masih mengandalkan dari hasil penangkapan di alam.. Ikan Sidhat dapat dibudidayakan di dalam ruangan tertutup (indoor) dan di luar ruangan (outdoor). Di Indonesia dengan suhu lingkungan yang relatif konstan sepanjang tahun maka pemeliharaan Ikan Sidhat dapat dilakukan di luar ruangan (out door).

Secara praktis Ikan Sidhat dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba faring apung. Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya Ikan Sidhat yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya.



2. LINGKUNGAN PERAIRAN YANG DIKEHENDAKI UNTUK BUDIDAYA IKAN Sidhat

a. Suhu.
Pada pemeliharaan benih Ikan Sidhat lokal, A. bicolor bicolor, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29°C.

b. Salinitas.
Pada pemeliharaan Ikan Sidhat lokal.,, A. bicolor bicolor (elver), salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 - 7 ppt.

c. Oksigen Terlarut.
Kandungan oksigen minimal yang dapat ditolelir oleh Ikan Sidhat berkisar antara 0,5 - 2,5 ppm.

d. pH.
pH optimal untuk pertumbuhan Ikan Sidhat adalah 7 - 8.

e. Amonia (N H3- N) dan Nitrit (NO2-N)
Pada konsentrasi amonia 20 ppm sebagian Ikan Sidhat yang dipelihara mengalami methemoglobinemie dan pada konsentrasi 30 - 40 ppm seluruh Ikan Sidhat mengalami methemoglobinemie.



3. KEBUTUHAN NUTRIEN

Seperti halnya jenis ikan-ikan lain, Ikan Sidhat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.
Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling).


4. BUDIDAYA IKAN Sidhat PADA JARING APUNG

a. Jaring Apung.
Satu unit jaring apung memiliki empat kolam berukuran 7 x 7 m, dengan jaring berukuran 7 x 7 x 2,5 m dan mata jaring 2,5 inchi. Untuk menghindari lolosnya ikan, disekeliling tepian kolam bagian atas diberi penutup dari hapa dengan lebar 60 cm.


b. Benih Ikan Sidhat.
Benih Ikan Sidhat (Anguilla bicolor) berbobot 15 - 20 gram per ekor dengan panjang 20-30 cm.. Benih Ikan Sidhat diperoleh dari Pelabuhan Ratu hasil tangkapan nelayan di perairan umum.

c. Padat Penebaran.
Setiap kolam ditebar 100 kg benih Ikan Sidhat.

d. Pakan.
Pakan yang diberikan adalah pakan buatan berbentuk pasta dengan kandungan :
■ Protein 47,93%
■ Lemak 10,03%
■ Seratkasar 8,00%
■ BETN 8,32%
■ Abu 25,71%




Pakan diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan Konvensi pakan sebesar 1,96.
Dengan konvensi tersebut akan diperoleh laju perturnbuhan
rata-rata 1,46`% dengan mortalitas 9,64 %.


e. Masa Pemeliharaan dan Panen.
Pemeliharaan Ikan Sidhat pada kolam keramba jaring apung selama 7 - 8 bulan, dan masa. panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan.

Ukuran Ikan Sidhat yang, dipanen dapat - mencapai ukuran. konsumsi yaitu 180 - 200 gram per ekor.
Pemeliharaan ikan Sidhat pada kolam keramba jaring apung merupakan salah satu alternatif dalam rangka penganekaragaman budidaya ikan pada kolam keramba jaring apung. Namun dalam penerapannya masih perlu diperhatikan kondisi serta kualitas perairan umum yang dipergunakan.

sumber :"dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008
 


Ruaya anadromous

Fish can migrate vertically, up and down the water column, or horizontally, across oceans or along rivers. Many marine species make daily, or diel vertical migrations (Latin: 'Dies' is day).
Classification of horizontally migrating fish:
  • potamodromous fish migrate within fresh water only (Greek: Potamos is river and dromos is 'a running').
  • oceanodromous fish migrate within salt water only (Greek: 'Oceanos' is ocean).
  • diadromous fish travel between salt and fresh water (Greek: 'Dia' is between).
  • anadromous fish live in the ocean mostly, and breed in fresh water (Greek: 'Ana' is up; The noun is "anadromy")
  • catadromous fish live in fresh water, and breed in the ocean (Greek: 'Kata' is down)
  • amphidromous fish move between fresh and salt water during their life cycle, but not to breed (Greek: 'Amphi' is both)




ANADROMOUS CATADROMOUS


Anadrom Diadromous dan Catadrom Diadromous menggambarkan spesies ikan yang menghabiskan sebagian dari kehidupan mereka di air tawar (sungai) dan sebagian dalam air laut.
Terdapat dua kategori ikan diadromous, yaitu catadromous dan anadromous.
Catadromous ikan menetas atau lahir di habitat laut, tapi air tawar bermigrasi ke daerah di mana mereka menghabiskan sebagian besar hidup mereka tumbuh dan mati. Sebagai ikan dewasa mereka kembali ke laut untuk berkembang biak (bertelur). Kata “catadromous” berarti “bawah-lari,” dan mengacu pada migrasi ke arah laut ikan dewasa.
Grup yang paling terkenal ikan Sidhat.. Dalam spesies ini, Sidhat betina menghabiskan sebagian besar mereka hidup di air tawar, sedangkan Sidhat jantan hidup terutama di daerah muara yang airnya payau. Individu berkembang biak di laut dan mati setelah pemijahan sekali.
Sedangkan ikan Anadromous merupakan kebalikan dari ikan catadromous dalam penetasan itu dan masa remaja terjadi pada air tawar. Ini diikuti dengan migrasi dan pematangan dan pendewasaan di laut. Ikan dewasa kemudian bermigrasi kembali ke atas sungai. “anadromous” berarti “berjalan ke atas” dalam rangka untuk mereproduksi dalam habitat air tawar (sungai). Panjang periode air tawar awal dan masa samudera sangat bervariasi menurut spesies yang melakukan perjalanan. Demikian pula, panjang migrasi dapat sangat bervariasi. Beberapa spesies berjalan ratusan kilometer antara habitat laut dan tempat berkembang biak mereka..
Ada sekitar 100 jenis ikan anadromous telah banyak dikenal. Beberapa di antaranya terkenal dan mempunyai nilai komersial yang besar, termasuk banyak spesies ikan salmon bersama dengan bebeerapa jenis bass bergaris-garis, trout Steelhead, sturgeon, berbau, Shad, dan herring. Salmon khususnya telah lama dikagumi karena tubuh mereka yang panjang, sulit bermigrasi sampai ke dasar sungai asli tempat mereka pemijahan, serta untuk kemampuan lompatan yang memungkinkan mereka untuk melakukannya. Kemampuan mereka untuk menavigasi kembali ke daerah peternakan yang tepat sangat mengesankan sejak migrasi sering mengikuti perjalanan panjang di laut, selama empat atau lima tahun. isyarat kimia diyakini membimbing mereka dalam perjalanan ini. Dan ini juga yang masih menjadi teka-teki bagi para peneliti, bagaimana salmon ini mempunyai kemampuan untuk menyimpan memori tempat mereka dulu menetas. Dalam beberapa spesies anadromous, mayoritas ikan mati segera setelah pemijahan, dengan hanya beberapa kembali hilir dan hidup untuk bertelur lagi. Dalam spesies lain, beberapa migrasi dan serangan pada saat pemijahan sudahlah menjadi hal yang sangat umum. Kerasnya Membuat Transisi Air tawar-Air Asin Diadromous ikan yang menarik khusus untuk ahli fisiologi karena tantangan besar yang ditimbulkan oleh transisi air tawar-air asin. Secara khusus, air tawar dan air asin membuat tuntutan lingkungan sangat berbeda pada sistem keseimbangan air, sehingga ikan ini harus melakukan penyesuaian yang diperlukan yang bersifat fisiologis setiap kali mereka pindah dari satu jenis habitat air yang lain. Setiap spesies bermigrasi diadromous setidaknya dua kali, sekali dari air tawar ke air laut, dan sekali dari air laut ke air tawar. Karena kemampuan mereka untuk mentolerir berbagai rezim salinitas, spesies diadromous juga digambarkan sebagai euryhaline, yang artinya “luas-asin” Ikan air tawar di lingkungan di mana mereka bersifat hyperosmotic. Artinya, konsentrasi garam dan ion dalam tubuh mereka adalah lebih besar dari yang di lingkungan akuatik eksternal. Akibatnya, mereka memiliki kecenderungan untuk kehilangan ion yang penting melalui difusi di kulit dan insang, dan sekaligus untuk mendapatkan air dari lingkungan. Untuk mempertahankan homeostasis, spesies air tawar memiliki adaptasi khusus untuk mempertahankan ion dan membuang kelebihan air. Pertama, mereka secara aktif mengambil ion di insang dan kulit, sebuah proses ini tentunya yang membutuhkan energi. Kedua, untuk membuang kelebihan air mereka mengeluarkan produk-produk limbah nitrogen dalam jumlah besar, dalam bentuk urin yang sangat encer. Dalam lingkungan air laut tantangannya adalah sebaliknya. Spesies yang dari air laut harus berurusan dengan lingkungan di mana garam dan konsentrasi ion secara signifikan lebih rendah dari lingkungan perairan sekitarnya. Spesies laut ini cenderung kehilangan air dan untuk mendapatkan ion dari itu. Untuk mendapatkan dan menghemat air, spesies laut ini meningkatkan laju minum mereka, dan mengeluarkan jumlah yang lebih kecil dari urin sangat terkonsentrasi. Selain itu, mereka menghilangkan kelebihan ion garam melalui ekskresi khusus pada insang dan pada lapisan mulut spesies Euryhaline harus mengadopsi taktik spesies air tawar sedangkan di lingkungan air tawar, dan mereka spesies laut di lingkungan air laut. Seringkali, penyesuaian fisiologis organisme yang dibuat ketika berada di antara, perairan payau muara. Ini termasuk perubahan nilai minum mereka, tingkat konsentrasi urin mereka, dan arah ion-memompa di insang dan kulit. Selain perubahan fisik, terkait dengan osmoregulasi, perubahan lain yang dibuat oleh spesies diadromous saat transisi antara air tawar dan habitat air asin. Dalam beberapa spesies diadromous, fitur eksternal seperti perubahan warna. Sebagai contoh, di beberapa spesies ikan salmon, individu kehilangan warna merah khas mereka sebelum bermigrasi ke laut, di mana mereka mengambil bentuk yang lebih berwarna perak. Mereka mendapatkan kembali warna air tawar mereka ketika mereka memasuki lingkungan air tawar. Mengingat baik kerasnya perjalanan panjang dan migrasi fisiologis tantangan serius yang dihadapi oleh spesies diadromous, masuk akal untuk bertanya mengapa spesies ini telah berevolusi siklus hidup kompleks yang requiresmultiple transisi antara garam dan lingkungan air tawar. Jawaban yang mungkin adalah bahwa spesies mampu memanfaatkan keuntungan yang ditawarkan oleh masing-masing habitat, dan bahwa manfaat ini membayangi beban dari migrasi jika terulang kembali. Untuk spesies anadromous seperti salmon, misalnya, tampaknya ada suatu keamanan secara signifikan lebih besar untuk telur di habitat air tawar namun kemungkinan untuk pertumbuhan lebih cepat di laut, di mana pasokan makanan lebih banyak. Kenaikan tingkat pertumbuhan yang menunjukkan salmon setelah mereka bermigrasi ke laut sangat dramatis. Manfaat dari Transisi Kerasnya perjalanan dari air asin ke habitat air tawar, atau sebaliknya, termasuk yang terkait dengan penyesuaian tegangan fisiologis, mungkin terkait dengan pengamatan bahwa banyak spesies diadromous semelparous, yaitu, mereka mereproduksi dalam satu pertarungan reproduksi besar dan kemudian mati. Ini juga dikenal sebagai reproduksi “big-bang”. Semelparity kontras dengan strategi reproduksi spesies iteroparous, yang bereproduksi beberapa kali. Iteroparity cirri banyak spesies termasuk manusia. Beberapa spesies anadromous sebelumnya telah kehilangan anadromy, setelah berevolusi untuk tetap berada di habitat air tawar di sepanjang siklus hidup keseluruhan. Misalnya, beberapa spesies dari danau menggunakan salmon daripada lautan untuk periode pertumbuhan dan pematangan. Namun, mereka terus bermigrasi ke sungai untuk menemukan alasan pemijahan yang sesuai. Dalam spesies lain, seperti trout Steelhead, anadromy tampaknya opsional. Individu yang melahirkan jauh dari laut memiliki kecenderungan untuk tetap dalam habitat air tawar selama pematangan, sementara mereka yang lebih dekat dengan mulut sungai memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kondisi anadromous. Ini mungkin berkaitan dengan perbedaan kebiasaan migrasi. Ancaman Bagi Ikan Diadromous ikan Diadromous sangat tergantung pada daerah muara, daerah payau menghubungkan sungai air tawar dan lingkungan air asin. Dalam hal ini muara spesies diadromous melakukan penyesuaian fisiologis yang diperlukan untuk transisi antara segar dan air garam. Sayangnya, banyak dari habitat muara berada di bawah ancaman. Ini hanya salah satu faktor yang bertanggung jawab atas penurunan dalam populasi spesies ikan anadromous. Dan juga meliputi peningkatan polusi sungai yang merusak habitat pemijahan sangat kritis, pembangunan bendungan dan lainnya menjadi kendala yang membuat migrasi ke atas sangat sulit, dan penebangan hutan secara komersial. Namun, pelepasan salmon muda ke sungai direklamasi telah mendapatkan beberapa keberhasilan, dan di beberapa daerah bagian khusus untuk migrasi salmon memungkinkan individu untuk mendapatkan hulu ke ground (daerah) pemijahan.

 


Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidhat di Indonesia

 
A. Pendahuluan
 
Ikan Sidhat, Anguilla spp merupakan salah satu jenis ikan yang laku di pasar internasional (Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara lain), dengan demikian ikan ini memiliki potensi sebagai komoditas ekspor.

Di Indonesia, ikan Sidhat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam seperti pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat Sumatera, pantai timur Kalimantan, pantai Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian Barat.

Tidak seperti halnya di negara lain (Jepang, dan negara-negara Eropa), di Indonesia sumberdaya ikan Sidhat belum banyak dimanfaatkan, padahal ikan ini baik dalam ukuran benih maupun ukuran konsumsi jumlahnya cukup melimpah.

Tingkat pemanfaatan ikan Sidhat secara lokal (dalam negeri) masih sangat rendah, akibat belum banyak dikenalnya ikan ini, sehingga kebanyakan penduduk Indonesia belum familiar untuk mengkonsumsi ikan Sidhat. Demikian pula pemanfaatan ikan Sidhat untuk tujuan ekspor masih sangat terbatas.

Agar sumberdaya ikan Sidhat yang keberadaannya cukup melimpah ini dapat dimanfaatkan secara optimal, maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis yang diawali dengan mengenali daerah yang memiliki potensi sumberdaya Sidhat (benih dan ukuran konsumsi) dilanjutkan dengan upaya pemanfaatannya baik untuk konsumsi lokal maupun untuk tujuan ekspor.


B. Sumberdaya Ikan Sidhat Di Indonesia

Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan Sidhat yakni: Anguilla mormorata,  Anguilla celebensis,  Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Jenis-jenis ikan tersebut menyebar di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam. Di perairan daratan (inland water) ikan Sidhat hidup di perairan estuaria (laguna) dan perairan tawar (sungai, rawa dan danau) dataran rendah hingga dataran tinggi.


C. Upaya Dalam Meningkatkan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidhat

1. Inventarisasi Potensi Sumberdaya Ikan Sidhat di Indonesia

Data tentang penyebaran dan potensi ikan Sidhat perlu dikumpulkan dan dianalisis. Pada saat ini data-data hasil penelitian tersebar di beberapa perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian serta lembaga lainnya. Apabila dihimpun, akan tampak di lokasi-lokasi mana saja yang masih harus dilakukan inventarisasi dan informasi apa saja yang masih harus dikumpulkan sehingga datanya dapat dipetakan.

Kegiatan inventarisasi ini harus dilakukan hingga dihasilkannya suatu "peta distribusi dan potensi ikan Sidhat di Indonesia". Melalui peta tersebut pengguna dapat mengetahui dengan mudah mengenai penyebaran jenis, kelimpahan dan stadia ikan Sidhat yang ada di perairan Indonesia.
 

2. Sosialisasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidhat Kepada Masyarakat

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengenal bentuk / rupa ikan Sidhat dan mencicipi rasanya. Agar ikan Sidhat dapat dikenal dan dapat diterima sebagai ikan konsumsi oleh masyarakat secara luas maka harus ada usaha-usaha penebaran ikan Sidhat di daerah-daerah yang secara alami tidak mungkin akan didapatkan ikan Sidhat (di luar jalur ruayanya).

Benih ikan Sidhat yang ditebar di suatu perairan (sungai, rawa dan danau) akan tumbuh dan ketika suatu saat tertangkap oleh pemancing atau penangkap ikan, maka mereka akan berusaha untuk mengenalinya (mengenal / mengetahui nama jenisnya) dan akan mencoba untuk mengkonsumsinya. Melalui usaha ini, lambat laun masyarakat akan menerima ikan Sidhat sebagai ikan konsumsi. Apabila masyarakat telah mengenal dan menerima ikan Sidhat sebagai ikan konsumsi, selanjutnya diharapkan masyarakat akan membutuhkan ikan tersebut dan ikan ini menjadi komoditas yang diperjualbelikan di pasar lokal.

Sejalan dengan usaha penebaran ikan Sidhat di perairan-perairan umum, dilakukan pula pengenalan produk-produk olahannya kepada masyarakat (misalnya: dendeng Sidhat, pepes, presto, sop, kobayaki, Sidhat asap dan lain-lain), baik melalui media masa elektronik maupun media masa cetak dan pameran-pameran.

Kegiatan ini membutuhkan waktu yang cukup lama (3 - 5 tahun), namun harus dilakukan bila ingin agar masyarakat mengenal, menyenangi dan membutuhkannya. Sasaran akhir dari kegiatan ini adalah meningkatkan permintaan masyarakat akan ikan Sidhat. Apabila permintaan ikan ini telah meningkat maka untuk memenuhinya otomatis akan memacu kegiatan penangkapan di tempat yang merupakan daerah penyebarannya dan juga akan memacu kegiatan budidayanya. Ikan Sidhat adalah ikan yang bersifat katadromos artinya ikan ini akan beruaya ke laut dalam ketika akan bereproduksi. Karena ikan ini tidak mungkin berkembangbiak di lokasi yang kita tebari, maka upaya penebaran ikan ini harus dilakukan secara berulang kali.

Dalam hal kegiatan penebaran (stocking) ke perairan umum, perlu di awali dengan uji coba pada perairan yang luasnya terbatas (misalnya di situ) dan dikaji dampaknya terhadap populasi jenis ikan lain yang ada di perairan tersebut. Dari kajian ini diharapkan akan diperoleh informasi mengenai dampak (positif atau negatif) dari kegiatan stocking tersebut. Stocking benih ikan Sidhat ini nantinya diharapkan selain akan dikenali oleh masyarakat juga akan mampu meningkatkan produksi ikan Sidhat dari perairan umum sebagaimana yang telah dilakukan di Australia.


3. Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Sidhat di Perairan Umum

Apabila ikan Sidhat telah dikenal dan dibutuhkan oleh masyarakat maka kegiatan penangkapan ikan Sidhat di perairan umum akan meningkat. Untuk mengarahkan agar kegiatan penangkapan ini tidak bersifat destruktif bahkan mengancam kelestariannya maka perlu diperkenalkan teknik penangkapan yang sederhana dan ramah lingkungan. Di samping itu juga perlu dipikirkan dari awal, upaya-upaya konservasi di lokasi-lokasi tertentu yang merupakan jalur ruaya reproduksi ikan tersebut sehingga proses recruitment ikan tersebut tidak terganggu.

4. Pengembangan Teknik Budidaya Ikan Sidhat

Sejalan dengan upaya sosialisasi ikan Sidhat kepada masyarakat, upaya pengenalan teknik budidayanya pun perlu dilakukan. Teknik budidaya Sidhat yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat (petani ikan) adalah teknik budidaya yang sederhana yang tidak membutuhkan banyak modal. Agar biaya produksi pada budidaya ikan Sidhat relatif rendah maka petani perlu diberi informasi yang memadai mengenai pakan Sidhat. Hal ini karena 50-60% dari biaya produksi berasal dari komponen pakan, sehingga apabila pakan Sidhat murah maka biaya produksi akan menjadi murah (rendah).

Ikan Sidhat merupakan ikan karnivora murni yang membutuhkan pakan berupa hewan lain. Apabila ikan tersebut diberi pakan buatan maka kadar protein pakannya harus tinggi (> 45%) sehingga harga pakannya mahal, hal ini akan menyebabkan biaya produksi dalam budidaya Sidhat menjadi tinggi sehingga harga Sidhat bila di jual akan tinggi pula dan ini akan menghambat sosialisasi ikan Sidhat sebagai ikan konsumsi masyarakat.

Untuk menyiasati agar biaya produksi rendah, maka petani harus dibiasakan untuk mulai menggunakan sumber-sumber protein yang saat ini melimpah namun tidak / belum dimanfaatkan secara maksimal, misalnya: keong mas, limbah pengolahan ikan dan ternak atau hewan lain yang dapat dibudidayakan secara sederhana dan murah (misalnya: bekicot, cacing tanah dan lain-lain).

Pengembangan teknik budidaya Sidhat sederhana yang dilakukan oleh masyarakat (petani kecil) dengan skala usaha relatif kecil tetapi pelaksananya (jumlah petani yang terlibat) banyak diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan produksi ikan Sidhat yang cukup besar dengan harga yang relatif rendah sehingga terjangkau oleh masyarakat.

Bilamana petani-petani ikan Sidhat telah banyak jumlahnya dan produksi dari hasil budidayanya telah cukup tinggi dan stabil maka produksi yang tadinya untuk tujuan konsumsi lokal dapat dialihkan ke tujuan ekspor.

Agar supaya mutu produk petani dan kontinuitas produksi lebih terjamin maka petani ikan perlu menghimpun diri dalam asosiasi-asosiasi yang mampu mandiri dan mampu mengembangkan usahanya ke arah yang lebih maju.

Bersamaan dengan pengembangan budidaya di masyarakat dan oleh masyarakat, lembaga penelitian dan perguruan tinggi harus melakukan penelitian-penelitian yang mengarah pada pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh petani pelaksana dan penciptaan teknologi yang lebih maju dengan tidak mengesampingkan aspek produktivitas dan efisiensi.


5. Pengembangan Teknik Pengolahan Produk Ikan Sidhat

Untuk meningkatkan daya terima masyarakat akan ikan Sidhat dan nilai tambah ikan Sidhat itu sendiri, maka produk yang di jual ke konsumen seyogyanya bukan hanya dalam bentuk segar, tetapi juga dalam bentuk olahan. Oleh karena itu maka kajian-kajian tentang proses pengolahan ikan Sidhat perlu dikembangkan terutama produk olahan yang sangat diminati oleh konsumen lokal ataupun konsumen internasional.


D. Penutup

Potensi sumberdaya ikan Sidhat yang cukup besar namun pemanfaatannya belum optimal sebenarnya mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan-kegiatan penangkapan, budidaya, pengolahan dan tataniaganya apabila diupayakan secara sungguh-sungguh dan bijaksana. Untuk itu maka perlu dilakukan upaya-upaya yang sistematis dan rasional ke arah pemanfaatannya dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan.

Sumber: Ridwan Affandi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Dalam Prosiding Seminar Riptek Kelautan Nasional


Daftar Pustaka
  • Affandi, R. 2001. Budidaya Ikan Sidhat. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.   
  • Matsui, I. 1970. Theory and Practice of Eel Culture. Ameriind Publishing Co. PVT. LTD.
  • Tesch, F. W. 1977. The Eel. Biology and Management of Anguilla Eels. Chapman and Hall. London.
 



Budi Daya Ikan Sidhat

TENTUNYA pertambahan penduduk dunia meningkatan kebutuhan akan sumber protein makanan daging dan ikan. Namun, penangkapan ikan yang hampir tidak terkendali dan dampak pencemaran laut oleh limbah rumah tangga, industri atau tumpahan minyak yang makin meluas, mengurangi dan memutus siklus kehidupan ikan di perairan seluruh dunia, sehingga menjadikan perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan makin besar dan tajam.

Pada sisi lain, manfaat ikan makin disadari sebagai pemacu pertumbuhan tubuh manusia, peningkatan kemampuan otak manusia, mencegah kolestrol / penyakit jantung, serta manfaat lain bagi kesehatan manusia.
Sehingga, kebutuhan ikan makin bertambah. Salah satu jenis ikan yang dianggap sangat bermanfaat bagi manusia (Jepang dan Korea) adalah ikan belut atau Sidhat atau eel (anguilla bicolor).
Karena dengan mengonsumsi ikan secara teratur, bagi orang Jepang dan Korea, di samping memacu pertumbuhan tinggi badan juga menstimulasi intelektual bangsa dan menjadikan mereka sebagai negara industri modern.

Cukup Cerah

Jepang mengimpor ikan Sidhat dari China dan Vietnam hampir 500.000 ton per tahun. Namun permintaan yang terus bertambah, sukar dipenuhi karena pencemaran lingkungan di kedua negara ini pun telah makin parah akibat pertumbuhan industri.

Negara-negara Eropa juga merupakan pasar yang berpotensi tinggi, karena mereka juga banyak mengonsumsi ikan.
Budidaya Sidhat mungkin masih kalah populer dari ikan-ikan jenis lain seperti lele, gurami, Ikan mas dan ikan lain. Meskipun demikian, potensi bisnis ikan Sidhat cukup cerah untuk dicoba.

Di dalam negeri, ikan Sidhat memang belum menempati posisi yang bagus, karena harganya sangat mahal. Tapi di Jepang, Macau, Taiwan, Cina dan Hong Kong, Ikan Sidhat banyak digemari. Selain karena kandungan gizi yang tinggi, harga ikan ini sangatlah fantastis, sehingga peluang bisnisnya sangat bagus.
Ikan Sidhat merupakan salah satu kekayaan laut Indonesia. Di perairan Indonesia sumberdaya benih Ikan Sidhat cukup berlimpah. Setidaknya, terdapat empat jenis, yaitu Anguilla bicolor, Anguilla marmorata, Anguilla nebulosa, dan Anguilla celebesensis.  Awal mula ekspor ikan ini, Indonesia mengandalkan tangkapan dari alam, namun lambat laun budidayanya mulai digalakkan.


Budi Daya

Anda tertarik untuk membudidayakannya? Budidaya ikan Sidhat relatif tidak sulit. Apalagi rasio hidup sangat tinggi, sekitar 90 persen, karena Sidhat mempunyai daya tahan kuat terhadap penyakit.
Lamanya budi daya tergantung ukuran benih. Paling banyak yang dibudidayakan adalah ukuran 200 gram untuk menghasilkan panen > 500 gram.
Lama budidaya maksimal lima bulan. Tingkat produktivitasnya juga cukup bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan bisa menghasilkan 5 ton ikan.

Sekarang, makin banyak investor yang berkeinginan membudidayakan ikan jenis ini. Sebab, budidaya ikan Sidhat dipastikan menguntungkan. Secara praktis ikan ini dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba jaring apung.
Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya, yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya. Pada pemeliharaan benih lokal, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29C, sedangkan salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 - 7 ppt.


Pakan

Selain itu, kandungan oksigen minimal yang dapat ditoleransi oleh ikan ini berkisar antara 0,5 - 2,5 ppm dan pH optimal.
Seperti halnya jenis lain, Ikan Sidhat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling). Biasanya, pakan yang diberikan adalah buatan berbentuk pasta dengan kandungan : Protein 47,93%, Lemak 10,03%, Seratkasar 8,00%, BETN 8,32% dan Abu 25,71%

Sebenarnya Sidhat termasuk ikan carnivora, pemakan daging,  cacing, cacahan keong, cacahan bekicot,  dan pelet.  Dan Sidhat lebih suka makan makan di dasar kolam, bukan terapung.
Pemeliharaan Ikan Sidhat pada kolam biasanya selama 7 - 8 bulan, dan masa panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan.

Panen

Dalam perawatannya pun, suplai oksigen harus dijaga karena ikan tersebut  membutuhkan air dengan tingkat larutan oksigen tinggi. Ukuran Ikan Sidhat yang, dipanen dapat mencapai ukuran konsumsi, yaitu 180 - 200 gram per ekor.
Sidhat yang dipanen diletakkan di  dalam keranjang plastik.  Keranjang ini diletakkan di dalam bak berisi air dengan sirkulasi.  Pakan tidak diberikan selama satu hari sebelum pengangkutan ke pasar.

Untuk pengangkutan selama lima sampai 10 jam dapat digunakan keranjang plastik, yaitu 10 keranjang yang berisi 4-5kg ditumpuk dan air dingin dipancurkan di atas tumpukan keranjang tersebut.
Satu keranjang berisi 1-2 kg es batu, kemudian diletakkan di atas tumpukan tersebut.  Tumpukan tadi kemudian dimuat ke atas truk dengan ditutup kain kanvas.
Untuk jarak jauh, yang memerlukan waktu 20 sampai 30 jam, Sidhat dikemas dalam kantong plastik lapis dua berkapasitas 8 liter, diisi 1-2 liter air, 0,5-1kg es batu dan gas oksigen.  Satu kantong dapat diisi 5-10 kg.  Biasanya, dua kantong dikemas dalam satu kotak Styrofoam.

Potensi sumber daya ikan Sidhat yang cukup besar namun pemanfaatannya yang belum optimal, sebenarnya mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat, melalui penciptaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan-kegiatan penangkapan, budidaya, pengolahan dan tataniaganya, apabila diupayakan secara sungguh-sungguh dan bijaksana. Selamat mencoba.,!! (Dela SY,dari berbagai sumber-12)
 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar