Rabu, 11 Mei 2011

SIDHAT SEGARA ANAKAN 1 - 海的孩子鳗鱼

SIDHAT SEGARA ANAKAN 1 - 海的孩子鳗鱼




海鳗的营养与食疗作用


原料介绍
鳗鱼统称为鳗鲡,分为河鳗和海鳗,其体长,似圆筒形,后端侧扁。头尖长,嘴、眼较大,上下额前端有锐利的大型犬牙,故名牙鱼等。背鳍,尾鳍相连,背暗灰色,腹灰白色。其肉质细腻、鲜嫩。属脊椎动物门,鱼纲,鳗鲡目,鳗鲡科动物。鳗鱼体细长,可达60CM,前部呈圆筒状,后部侧扁。鳗鱼分布于长江,闽江,珠江流域及海南岛,产卵于海,生长于江河,属江河入海洄游鱼类。现已有人工养殖,生长速度快,有“水中人参”之誉。
营养分析
1. 鳗鱼富含多种营养成分,具有补虚养血、祛湿、抗痨等功效,是久病、虚弱、贫血、肺结核等病人的良好营养品;
2. 鳗鲡体内含有一种很稀有的西河洛克蛋白,具有良好的强精壮肾的功效,是年轻夫妇、中老年人的保健食品;
3. 鳗是富含钙质的水产品,经常食用,能使血钙值有所增加,使身体强壮;
4. 鳗的肝脏含有丰富的维生素A,是夜盲人的优良食品。
相关人群
一般成年人均可食用
1. 适合于年老、体弱者及年轻夫妇食用;适用于久病羸弱、五脏虚损、贫血、夜盲人、肺结核、妇女崩溃带下、小儿疳积、小儿蛔虫以及痔疮和脱肛病人食用;
2. 患有慢性疾患和水产品过敏史的人、病后脾肾虚弱、痰多泄泻者忌服。
食物相克
鳗鱼忌与醋、白果同食。
制作指导
1. 鳗鲡肉肥味美,煎炸、红烧、炒、蒸、炖、熬汤,无所不可;如黄焖河鳗、夹烧鳗鱼等。
2. 晒干后的鳗肉称为鳗鲞,食用时可用水发之,切丝入汤,味道也很好;鳗鲞以产于浙江沿海的产品质量最佳;若不用水发,加绍酒、葱结、姜片,上笼隔水蒸15分钟后去皮骨,味道更美;
3. 鳗鱼的油脂含量颇多,若以味道浓厚的调味汁做成烤鳗鱼的鳗鱼饭食用时,往往会造成脂肪的摄取分量过多,如果关心健康,应蒸的方式来消除脂肪,较为合理;
4. 吃鳝鱼最好现杀现烹,死鳝不宜食用。
5. 收拾鳗鱼的窍门:用左手中指关节用力勾住鳗鱼,然后右手拿刀先在鳗鱼的喉部和肛门处各割一刀,再用方竹筷插入喉部刀口内,用力卷出内脏;用手挖出鱼鳃,将河鳗放入大盆内,倒入沸水浸泡,待黏液凝固,即用干揩布或小刀将鳗鱼的银鳞除净,最后用清水反复冲洗几次。
食疗作用 鳗鲡味甘、性平,入肝、肾、脾经;
具有补虚、养血、祛湿、抗痨等功效;
适用于久病羸弱、五脏虚损、贫血、肺结核、妇女崩溃带下、小儿疳积、小儿蛔虫以及痔疮和脱肛病人食用。

其他相关
鳗鱼治疗结核病,中国古代有丰富的经验记载,日华诸家本称其主治传尸痨(肺结核)。
唐孟洗说:“主治五痔,疮瘘,诸疮痹疬(包括淋巴结核,肛门结核)”。
宋苏颂说:“以五味食治久病劳瘵”。梁陶宏景用之治诸瘘疮。
宋《圣惠方》用之治骨蒸劳瘦。明李时珍用之治小儿疳痨等等,不胜枚举。
还有李时珍引《稽神录》的一个故事,生动地说明鳗鱼的抗肺痨作用,说有人病瘵(肺结核,古时称劳瘵)相传互相传染,死者多人,因取病人弃于江边以绝害。渔人见之,乃一女子,犹活,取置渔舍,日以鳗鱼喂之,渐愈,遂为渔人之妻。(沈括《梦溪笔谈》亦载此故事)。
使用提示: 每次约50克
  http://www.saybb.net/115-yuxiaxie/view-9959.html



Petualangan Bahari di Segara Anakan


BANYAK daerah di Indonesia yang memiliki wilayah yang luas, namun tidak memiliki banyak obyek wisata. Cilacap adalah Kabupaten dengan wilayah paling luas di propinsi Jawa Tengah. Hanya saja nama penjara Nusa Kambangan sudah kepalang basah mencitrakan daerah ini sebagian daerah napi. Padahal ada kawasan Segara Anakan, sebuah hutan bakau yang luas yang menggoda siapa saja yang ingin menikmati petualangan bahari.

Segara Anakan adalah kawasan laguna unik seluas 40 ribu hektar di Pantai Selatan Pulau Jawa. Tidak hanya hutan bakau dengan keberagaman flora dan fauna, Segara Anakan menjadi tempat menarik bagi para nelayan yang tinggal di kampung ini. Serta gua yang dipercaya menjadi tempat tinggal para makhluk gaib.


Pelabuhan Sleko adalah gerbang utama, untuk memasuki kawasan wisata Segara Anakan. Segara Anakan guna dibagian belakang Pulau Nusa Kambangan dan untuk mencapainya bisa menggunakan perahu nelayan kecil atau compreng, yang tarifnya 50 hingga 100 ribu rupiah per orang.


Perjalanan sekitar 3 jam dari hulu hingga ke hilir. Hutan bakau mulai terlihat ketika memasuki sungai kecil. Disini laju perahu harus diperlambat agar tidak menabrak jajaran pohon bakau yang tumbuh dengan lebatnya. Hutan bakau tertata dengan rapi di area yang begitu luas, sekitar 9000 hektar.

Nelayan kerap melintasi kawasan ini untuk membawa hasil tangkapan mereka. Meskipun warga asli Segara Anakan, para nelayan disini sulit mendapatkan air bersih dan bahan bakar. Dan drum-drum yang mereka bawa ini berisi air bersih dan BBM yang mereka beli dari Kota Cilacap.


Setelah sekian lama berputar-putar kami tiba dibibir sungai. Disini suasana begitu hidup dengan kicauan burung kuntul. Serta buah yang dapat dipercaya menjadi tempat tinggal para makhluk gaib. Kawasan Segara Anakan sebagian masih terlindungi dengan baik dari gangguan manusia. Namun hanya sebagian kecil. Kabarnya, tinggal sekitar 1200 hektar yang masih terawat dengan baik.


Perlahan-lahan hutan bakau Segara Anakan terkikis habis. Baik secara alamiah karena proses pendangkalan, namun juga ulah manusia yang mengambil kayu bakau. Butuh perjuangan keras untuk menyelamatkan kawasan ini.
Kampung Nelayan

Tidak jelas sejak kapan ada pemukiman nelayan di kawasan pesisir Segara Anakan. Jajaran perumahan sederhana yang berdiri tegak ini adalah pemukiman penduduk asli. Di kawasan ini yang namanya lebih dikenal dengan nama Kampung Laut, cukup sulit untuk menjangkaunya karena letaknya sangat terpencil.

Kami merapat di Kampung Laut, ujung Aru. Kesan terpencil begitu terasa. Kampung sangat sepi. Ada 3 desa di kampung ini. Bagi penduduk disini, Segara Anakan ibarat sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan dengan Kampung Laut. Penduduk disini sangat bergantung dengan laguna, yang menjadi sumber kehidupan mereka.


Bila laguna ini tidak diselamatkan dari proses pendangkalan, maka sama saja kiamat bagi mereka. Kami bertemu dengan salah satu penduduk disini bernama Yani, yang tinggal bersama putranya, Ujang. Hidup mereka bergantung dari kepiting bakau, yang banyak hidup dikawasan ini.


Mereka biasanya mulai mengumpulkan dan melihat hasilnya pada malam hari. Mereka menjualnya hingga ke kota-kota besar seperti Semarang dan Jakarta. Harganya sekitar 40 hingga 50 ribu rupiah per kiloan dan menjadi 2 kali lipat bila kita menyantapnya di restaurant.


Hidup matinya Kampung Laut tergantung dari kepiting bakau, yang hidup disini. Mereka berharap harganya akan terus membaik di pasar. Yang barangkali mereka tidak tahu adalah sampai kapan kepiting ini beranak pinak, bila lingkungan kawasan Segara Anakan kian terancam.


Kampung Laut bukan akhir dari cerita tentang Segara Anakan. Sebagian kawasan ini masih diselimuti hal-hal yang gaib. Bagi sebagian orang yang pernah datang ke tempat ini. Di kawasan ini terdapat gua yang bernama Masigitsela, yang letaknya di kaki bukit Pulau Nusakambangan.

http://www.saybb.net/115-yuxiaxie/view-9959.html


Mengarungi Segara Anakan, Menuju Kampung Laut

Oleh: Des Christy
Kampung Laut yang dikelilingi Segara Anakan


Kabupaten Cilacap selama ini lebih dikenal dengan industri dan pelabuhannya. Namun, perlahan tapi pasti, pariwisata mulai dikembangkan di Kabupaten ini. Kekayaan pesona alamnya tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi potensi wisatanya. Di antaranya adalah Segara Anakan, Pulau Nusakambangan, dan Kampung Laut, yang berada di bagian selatan kabupaten ini. Perjalanan Kru WisataMelayu.com selama dua hari di Kabupaten ini, membawa kesan yang membekas dalam ingatan, bahwa Kabupaten Cilacap layak menjadi salah satu destinasi wisata Indonesia.
Jika di hari pertama Kru WisataMelayu.com telah menjelajahi Benteng Pendem dan Teluk Penyu, maka di hari kedua (26/01), menyusuri Segara Anakan menjadi agenda utama kami. Berperahu menyusuri Segara Anakan menuju Pulau Nusakambangan dan Kampung Laut.
Lazimnya, untuk mengakses Segara Anakan ataupun ingin menuju Kampung Laut dapat melewati dua pelabuhan. Pelabuhan pertama bernama Pelabuhan Sleko yang terletak di pusat kota Cilacap. Di Pelabuhan ini, terdapat pangkalan perahu motor yang biasa disebut compreng, yang dapat mengantar pengunjung ke Kampung Laut. Pengunjung pun dapat memilih mau menyewa compreng, atau menggunakan compreng reguler yang lebih murah, dengan konsekuensi waktu dan rute yang terbatas. Dari Sleko menuju Kampung Laut, akan memakan waktu sekitar 90 menit.
Pelabuhan kedua terletak di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap. Dari Kabupaten Ciamis, Segara Anakan dapat dimasuki dari Majingklak. Di daerah ini, juga terdapat penyewaan compreng yang harganya lebih murah dari Sleko, dan waktu tempuh menuju Kampung Laut yang lebih singkat, hanya sekitar 20 menit.
Namun, kami tidak menempuh dua jalur itu. Lokasi tempat kami menginap yang berada di Kecamatan Cilacap Tengah, membuat kami memutuskan untuk mengawali perjalanan dengan rute lain. Kami mulai berlayar dari Kelurahan Donan dengan menyewa perahu penduduk setempat. Selain kami, beberapa pemuda dari Kelurahan Donan juga ikut berlayar. Ya, hitung-hitung mereka dapat menjadi pemandu dalam perjalanan ini.
Rute yang ditempuh Kru WisataMelayu.com sendiri merupakan rute yang cukup panjang. Dari Kelurahan Donan menuju Kampung Laut, memakan waktu sekitar empat jam perjalanan dengan compreng. Namun, lamanya waktu tersebut tidak sedikit pun membuat kami bosan. Begitu memasuki kawasan Segara Anakan, deretan hutan Mangrove menemani kami sepanjang perjalanan. Belum lagi, sesekali beberapa jenis burung melintasi langit di atas kami.

Deretan hutan Mangrove yang banyak terdapat di Segara Anakan

Setelah berlayar selama lebih dari dua jam, pemilik compreng berkata bahwa mesin yang menempel di belakang compreng sudah sangat panas, butuh waktu istirahat agar mesin tidak terlalu berat kerjanya. Kami pun menyandarkan perahu di bawah pohon yang cukup rindang. Sambil menunggu mesin compreng mendingin, para pemuda dari Donan berlari ke arah rawa yang banyak ditumbuhi pohon Mangrove. “Mencari susu gulung!” tutur salah seorang dari mereka.
Susu gulung adalah sebutan bagi binatang sejenis keong, yang besarnya sekepalan tangan orang dewasa. Setelah mendapatkan susu gulung cukup banyak, mereka kembali ke perahu dengan kondisi penuh lumpur. Hal tersebut tidak membuat mereka risau, untuk membersihkannya, mereka justru memilih untuk berenang di air Segara Anakan yang tengah kami lintasi ini. Di tengah udara yang panas menyengat, kegiatan berenang mereka pun terlihat sangat menggiurkan. Maka, tanpa pikir panjang, kami pun turut menceburkan diri ke air. Acara berenang ini tidak berlangsung lama. Karena motor perahu sudah cukup dingin, dan kami dapat segera meneruskan perjalanan. Seraya meneruskan perjalanan, para pemuda Donan, sibuk membuka susu gulung hasil tangkapan mereka, kemudian isinya langsung dimakan tanpa diolah terlebih dahulu. “Susu gulung bisa dimakan mentah kok mbak. Meski sedikit amis, tapi rasanya gurih,” tutur salah seorang dari mereka.
Tak berapa lama, kami telah berada di sisi barat Pulau Nusakambangan. Pemilik compreng bercerita, bahwa di daerah ini, tepatnya di Desa Klaces, terdapat sebuah gua yang kerap digunakan untuk berdoa. Karena penasaran, akhirnya kami pun meminta agar perahu menepi, dan beranjak mengunjungi gua tersebut. Namanya Gua Masigit Sela. Bentuknya yang seperti ruangan mesjid, lengkap dengan tempat imam dan wudhu yang berasal dari sebuah mata air, membuatnya kerap disebut dengan nama Masjid Sela.

 Gua Masigit Sela, yang terletak di sisi barat Pulau Nusakambangan

Sayang sekali, siang itu, kami tidak diperkenankan masuk oleh seorang juru kunci. Hal ini dikarenakan sifat sakral dari gua itu sendiri. Namun, kekecewaan kami sedikit terobati, ketika pemilik perahu bersedia menceritakan perihal gua yang merupakan objek wisata spiritual andalan Kabupaten Cilacap tersebut. Seraya beristirahat di sebuah pondokan yang terletak di depan gua, ia menuturkan bahwa banyak orang yang percaya, Gua Masigit merupakan tempat untuk menenangkan diri dan ngalap (memohon) berkah. Maka tak heran, jika di hari-hari tertentu seperti Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan hari-hari besar Islam lainnya, Gua Masigit selalu ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan pejabat lokal maupun pusat, yang datang untuk memohon kenaikan kedudukan.
Hari semakin siang, dan perjalanan ini harus kami lanjutkan, jika tidak ingin kemalaman. Kami pun beranjak meninggalkan Gua Masigit, kembali menaiki perahu. Kali ini, tujuan kami adalah Dusun Ujung Alang, yang merupakan bagian dari Kampung Laut. Salah seorang pemuda dari Donan menuturkan, bahwa untuk sampai di Ujungalang tidak akan terlalu lama lagi. Akhirnya, kami pun tiba di Ujung Alang. Namun, lagi-lagi hari ini kami tidak cukup beruntung. Sebelum kedatangan kami, di dusun tersebut, tepatnya di RW 02, baru saja berlangsung Tarung Ayam, yang juga dikenal dengan nama Sabung Ayam. Sayang sekali, ketika kami datang, yang tersisa hanyalah kerumunan pria yang tengah membagi-bagikan uang kepada para pemenang. “Acara seperti ini tidak rutin dilaksanakan, jika ada yang ingin menarungkan ayamnya, dan ada lawannya, barulah Tarung Ayam dapat digelar,” tutur Bapak ketua RW 02, yang sekaligus pemilik warung di dusun tersebut.
Dusun Ujung Alang sendiri merupakan pulau kecil yang berada di tengah-tengah Segara Anakan. Di sebelah selatan adalah Pulau Nusakambangan, di sebelah utara merupakan hutan bakau Segara Anakan, sebelah barat merupakan perairan untuk menuju Pangandaran, sedangkan arah timur merupakan perairan menuju Cilacap.

Sang ketua RW tersebut, kemudian bercerita kepada kami, bahwa sebelum tahun 70-an penduduk Kampung Laut masih hidup di atas perahu. Semakin berkurangnya sumber kayu yang dapat digunakan untuk membuat perahu, dan semakin berkurangnya makanan yang bisa mereka dapat di Segara Anakan dan sekitarnya, membuat mereka memutuskan untuk memulai hidup di daratan. Seluruh kawasan yang ditinggali oleh para manusia perahu inilah yang kemudian disebut sebagai Kampung Laut. Namun, keberadaan penduduk Kampung Laut ini, ternyata belum lama mendapat tanggapan dari pemerintah. Menurut sang ketua RW, baru sekitar tiga tahun yang lalu Kampung Laut diakui secara administratif. Kondisi Dusun Ujungalang bagi kami memang cukup memprihatinkan. Rumah yang berjejer, merupakan bangunan-bangunan dari kayu, yang sebagian di antaranya sudah tampak keropos.
Tak terasa, senja mulai mengintip, membuat kami tak dapat berlama-lama di Ujungalang. Sebenarnya, ingin sekali untuk dapat lebih lama tinggal di Ujungalang, untuk bisa mendengar lebih banyak cerita dari masyarakat setempat. Perjalanan panjang untuk pulang, memaksa kami untuk segera beranjak. Oleh karena itu, usai mendengarkan cerita pemilik warung, dan menikmati makanan dan minuman yang dijualnya, kami pun bergegas kembali ke perahu. Perjalanan pulang pun dimulai. Dengan diiringi senja, kami pun berlayar kembali menuju Donan.


 
http://wisatamelayu.com/id/opinion/d/138/jelajah-cilacap-mengarungi-segara-anakan-menuju-kampung-laut/




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar