Selasa, 10 Mei 2011

BUDIDAYA SIDHAT 7

BUDIDAYA SIDHAT 7



Ramai-ramai Panen Sogili di Tentena

Danau Poso merupakan sebuah danau 
yang terletak di provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia
Tepatnya di Kabupaten Poso
Danau ini merupakan danau terbesar ketiga di Indonesia 
dengan memiliki panjang 32 km dan lebar 16 km.

Para nelayan di Tentena, kota wisata di tepian Danau Poso, Sulawesi Tengah, mulai memasuki masa panen ikan sidhat atau belut. Penduduk lokal menyebutnya sogili.

"Musim sogili di sini biasanya mulai Desember sampai Juni, namun tahun ini musim rupanya bergeser dan baru mulai ramai Februari 2009," kata T. Tampai, seorang nelayan sogili saat ditemui di Tentena, ibu kota Kecamatan Pamona Utara, sekitar 56 kilometer selatan Kota Poso, Senin (2/3).


Menurut dia, musim panen sogili diperkirakan mencapai puncak pada Mei. Saat ini sebenarnya baru awal-awal panen saja. "Hasilnya belum begitu ramai, paling banyak 10 kilogram sampai 12 kilogram atau sekitar empat ekor per orang tiap hari. Pada puncak musim, satu hari bisa dapat 20 sampai 25 kilogram per hari," ujarnya.


Ikan sogili hidup dengan berat di atas dua kilogram per ekor dijual kepada pengumpul untuk diekspor dalam bentuk sogili segar dengan harga Rp 75.000 per kilogram. Sedangkan yang sudah mati atau yang beratnya di bawah dua kilogram  per ekor dijual ke masyarakat lokal atau pengusaha restoran/warung makan Rp 45.000 per kilogram. "Nelayan sogili Tentena tahun ini sangat diuntungkan karena dalam musim panen saat ini, harga jualnya cukup menarik mencapai Rp 75.000 per kilogram," kata Kaverius, nelayan sogili lainnya.

   
"Kami tidak pernah kesulitan menjual sogili baik yang hidup maupun mati karena pasarnya banyak. Pengumpul sogili hidup membeli berapa pun yang dihasilkan nelayan dengan harga cukup tinggi, sebab sogili hidup kini menjadi komoditas ekspor yang dikirim melalui Makassar," kata Kaverius menambahkan.
   
Penangkapan ikan sidhat di Danau Poso dilakukan dengan membuat pagar perangkap di mulut sungai berbentuk piramida yang terbuat dari kayu dan bambu. Di ujung piramida itu dipasang bubu (wuwu) atau pukat untuk menampung sogili yang terperangkap. Saat sogili keluar dari Danau Poso dan mulai masuk ke mulut sungai, ikan belut itu akan tergiring masuk ke bubu atau pukat.
   
"Jadi pada subuh hari kita tinggal mengangkat pukat atau bubunya untuk mengambil ikan belut itu," ujarnya.
   
Setiap pagar perangkap diusahakan oleh delapan sampai sepuluh orang nelayan dengan pembagian hasil dilakukan secara bergiliran setiap hari, misalnya si ’A’ yang mendapat giliran hari Senin, seluruh hasilnya pada Senin itu milik ’A’ demikian selanjutnya. "Ini sudah tradisi yang turun temurun di sini sejak tahun 1950-an," kata Tampa’i (83) yang tampak masih kuat dan tetap menekuni usaha menangkap belut tersebut.
   
Sementara itu, Joni, eksportir sogili di Tentena, mengatakan, pada musim sogili bulan Februari sampai Juni, ia bisa mengekspor 400 kilogram setiap minggu dengan tujuan Taiwan dan China melalui Jakarta. Ikan sogili di dua negara tersebut sangat diminati untuk bahan pencampur sup sehingga pembeli tidak pernah membatasi jumlah untuk dikirim dalam keadaan hidup.
  http://sains.kompas.com/read/2009/03/02/12445435/ramai-ramai.panen.sogili.di.tentena


Luas Segara Anakan Tinggal Kurang dari 800 Hektar

Segara Anakan merupakan bagian dari kawasan Nusakambangan 
yang membentuk suatu paduan alam yang menawan. 
Segara Anakan dan Nusakambangan 
merupakan tempat wisata alam yang ideal. 
Panorama bentang alam dan keunikannya menyajikan 
suatu pemandangan yang menakjubkan. 
Nikmati paduan keindahan dan keunikan 
penuh nuansa petualangan yang mengasyikan.

Sedimentasi di Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah, hingga saat ini belum dapat dikendalikan. Dengan rata-rata sedimentasi per tahun mencapai 5 juta meter kubik, diperkirakan saat ini luas laguna Segara Anakan kurang dari 800 hektar atau tinggal seperempat dari luas laguna tersebut pada tahun 1984.
Kondisi tersebut diperparah dengan makin luasnya konversi lahan untuk permukiman, serta rusaknya kawasan mangrove di wilayah itu. Akibatnya, biota laut di wilayah ini banyak yang punah.
Data dari Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA) yang diperoleh Kompas, akhir pekan lalu, menunjukkan, pada tahun 1984 luas laguna yang memiliki hutan mangrove terluas di Jawa itu mencapai 2.906 ha. Jumlah tersebut pada tahun 1994 atau 10 tahun kemudian menyusut 1.331 ha menjadi 1.575 ha. Luasan tersebut kembali turun pada tahun 2005 atau 11 tahun kemudian menjadi 834 ha. Artinya, dalam kurun waktu 21 tahun, terjadi penyusutan luasan laguna 2.072 ha atau 98,6 ha per tahun.
Kepala BPKSA Supriyanto mengungkapkan, pada tahun 2003, luas laguna Segara Anakan, bahkan, sempat mencapai 600 ha. Penyudetan Sungai Cimeneng dan pengerukan sedimentasi pada tahun tersebut membuat luasan laguna naik menjadi 834 ha pada tahun 2005.
Akan tetapi, dengan total sedimentasi yang masuk dari tiga sungai, yaitu Citanduy, Cimeneng, dan Cikawung yang mencapai 5 juta meter kubik per tahun diperkirakan luasan laguna saat ini kian menyempit lagi. Bila rata-rata per tahun penyusutan akibat sedimentasi mencapai 98,6 ha, luasan laguna diperkirakan kurang dari 800 ha pada tahun 2008 ini, terlebih dengan tak terkendalinya kerusakan hutan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citanduy, Cimeneng, dan Cikawung.
"Sedimentasi menjadi persoalan utama di Segara Anakan. Pendangkalan pun terjadi dan sulit dikendalikan. Endapan baru juga muncul di bagian barat yang dikhawatirkan akan menutup perairan di Plawangan Barat," kata Supriyanto.
Untuk mengurangi laju sedimentasi, rencana penyudetan Sungai Citanduy sudah sejak lama didengungkan, baik oleh pemerintah daerah, maupun pusat. Namun, rencana tersebut sampai saat ini tak pernah terealisasi. Menumpuknya sedimentasi di Segara Anakan dikhawatirkan akan menimbulkan ancaman banjir besar di wilayah Cilacap karena tertutupnya aliran di muara.
Di samping itu, degradasi lingkungan di kawasan Segara Anakan pun juga terjadi. Hutan mangrove di wilayah itu kini tinggal 8.359 ha. Itu pun data tahun 2003. "Padahal, tahun 1974 masih seluas 15.551 ha. Berkurangnya luasan mangrove itu akibat pembalakan liar, baik oleh warga di Segara Anakan, maupun dari luar kawasan itu," kata Supriyanto.
Kerusakan lingkungan di Segara Anakan mengancam kekayaan biota laut di kawasan ini. Peneliti Senior dari Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi, Odilia Rovara, mengungkapkan, Segara Anakan mempunyai biota yang unik, salah satunya adalah ikan Sidhat. Ikan ini memiliki kandungan DHA hampir dua kali lipat dibandingkan ikan biasa. "Dari 12 species ikan Sidhat di dunia, tujuh di antaranya berkembang di Segara Anakan. Hal ini karena kawasan tersebut memiliki ekosistem yang unik," kata Odilia.
Ke depan, ikan Sidhat diharapkan dapat dibudidayakan secara lebih intensif. Selain dapat mempertahankan keunikan ekosistem di Segara Anakan, nilai ekonomis ikan Sidhat sangat berguna untuk mengurangi laju eksploitasi mangrove di Segara Anakan.
Deputi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang Kependudukan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup Emil Agustiono menandaskan, masalah di kawasan Segara Anakan adalah masalah nasional. Kerusakan di kawasan tersebut juga merupakan ancaman terhadap bencana nasional. "Karena itu, penyelesaiannya harus bersama-sama, melibatkan semua instansi, wilayah, dan mitra kerja. Kami akan segera rapat koordinasi untuk mengatasi masalah ini," tandas dia.
  http://nasional.kompas.com/read/2008/12/14/17274064/



Sidhat Bengkulu Komoditi yang Belum Tergarap

Ikan sidhat yang banyak terdapat di sungai, muara, dan laut Bengkulu memiliki kualitas ekspor yang hingga kini belum dimanfaatkan, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu, Maman Hermawan.
   
"Kita memiliki potensi ikan sidhat yang sangat besar, namun selama ini belum dimanfaatkan," katanya di Bengkulu, Sabtu.
   

Bengkulu (bahasa Belanda: Benkoelen atau Bengkulen, bahasa Inggris: Bencoolen, bahasa Malaysia: Bangkahulu) bagian barat daya pulau Sumatera adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera, Indonesia. Di sebelah utara berbatasan dengan Sumatera Barat, di sebelah timur dengan Jambi dan Sumatera Selatan, sedangkan di sebelah selatan dengan Lampung.


Informasi dari nelayan setempat, mereka bisa menangkap sidhat sebanyak 60 ton per minggu, jika sedang musim bertelur, saat ikan itu berada di laut. Sidhat merupakan ikan berbadan panjang, sejenis belut namun memiliki kuping, bisa hidup di laut dan air tawar.
   
Habitat asli ikan tesebut berada di sungai dan muara, namun ketika akan bertelur turun ke laut yang paling dalam. Setelah menetas, anak sidhat akan kembali naik ke sungai dan muara sampai besar.
   
Selama ini, sidhat hasil tangkapan nelayan hanya dioleh menjadi ikan asin dan dijual di sekitar Provinsi Bengkulu. Padahal itu, merupakan salah satu komiditas ekspor dan banyak diminati terutama pasar di Jepang.
   
"Saya sedang menginventarisasi berapa banyak sidhat hasil tangkapan nelayan, rencananya kita akan mengupayakan agar bisa diekspor terutama ke Jepang," katanya.
   
Untuk tempat bertelur, kata dia, kebanyakan di wilayah perairan Enggano, yang memang lautnya sangat dalam, namun habibat ketika tidak sedang bertelur berada di hampir seluruh sungai dan muara yang ada di Provinsi Bengkulu.
   
"Di Bengkulu banyak sungai besar yang bermuara ke laut, sehingga ikan sidhat pada saat musim bertelur turun ke laut," katanya.
   
Mengenai budidaya sidhat, menurut dia, hingga kini di Indonesia belum ada yang membudidayakan ikan itu. Yang ada hanya pembesaran yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat.
   
"Belum ada budidaya, yang ada hanya pembesaran, yakni mengambil bibit sidhat dari laut kemudian dibesarkan di penangkaran," katanya.
   
Maman juga memprogramkan untuk membangun tempat pembesaran ikan sidhat di Bengkulu. Terkait dengan rencanan itu pihaknya telah melakukan studi banding ke Karawang.
   
"Saya juga akan membawa contoh ikan sidhat ke Departemen Kelautan dan Perikanan, sekalian mengusulkan agar pusat membangun tempat pembersaran ikan tersebut di Bengkulu," katanya.
  http://nasional.kompas.com/read/2008/11/15/16251876/



Moa Enggano Diminati Peracik Obat Tradisional China

 – Penduduk Enggano tak perlu khawatir kehilangan penghasilan saat ombak tinggi sehingga tak bisa melaut atau hasil perkebunan coklat menurun saat musim kemarau. Selain menjual burung beo, merek tetap bisa memperoleh penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dengan menjual moa yang diminati para peracik obat tradisional China.

Pulau Enggano adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia dan berbatasan dengan negara India. Pulau Enggano ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dan merupakan satu kecamatan. Pulau ini berada di sebelah barat daya dari kota Bengkulu dengan koordinat 5° 31′ 13″ LS, 102° 16′ 0″ BT.


Moa atau sidhat adalah sejenis belut yang hidup di sungai. Hewan tersebut memiliki bagian seperti telinga di bagian pangkat kepalanya, ciri khas yang membedakannya dengan belut. Tubuhnya dapat tumbuh jauh lebih besar dari belut.

"Di sini, satu ekor bisa 10 kilogram beratnya...berat banget," ujar Arpan, panggilan Arif Faturokhman, Koordinator Tim Kodal (Komando pengendali) II Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang baru saja menyelesaikan survei di Pulau Enggano. Moa sangat melimpah di aluiran sungai pedalaman hutan Enggano. Hewan tersebut sering muncul ke permukaan sungai saat bulan kering dan gelap alias tak ada cahaya bulan.

Namun, penduduk tak serta-merta mengambil moa sebanyak-banyaknya. Sebab, satu ekor moa saja cukup untuk hidup berhari-hari. Moa tangkapan tersebut bukan untuk dinikmati sendiri, melankan dijual ke Bengkulu. Satu ekor moa bisa laku hingga Rp1,5 juta karena untuk tiap kilogram dihargai sekitar Rp150.000.

Moa dari Enggano diminati orang-orang China di Bengkulu karena lendirnya dipercayai berkhasiat untuk pengobatan. Orang-orang China tersebut biasanya mengambil moa hidup-hidup untuk diternakkan. Sementara lendirnya akan diambil sewaktu-waktu dan dikemas dalam bentuk pil obat tradisional China.

"Penduduk Bengkulu tak kesulitan menjual moa karena biasanya sudah ada bandar yang siap menampung," ujar Arpan. Dengan menjual burung beo, selain moa, dan hasil bumi lainnya, penduduk Bengkulu tetap dapat meraih penghasilan antara Rp4 juta hingga Rp6 juta setara dengan penghasilan
dari kebun coklat.
  http://nasional.kompas.com/read/2008/05/24/23541862/Moa.Enggano.Diminati.Peracik.Obat.Tradisional.China 


Sogili Bakar dari Danau Poso

ADA yang bilang, belum pas rasanya jika ke Danau Poso, pengunjung belum menikmati ikan sogili bakar. Hewan yang kerap disebut sebagai belut air tawar atau sidhat ini memang menu khas andalan beberapa rumah makan, di Tentena, ibu kota Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.
"Sogili juga ikan mahal. Sekilo bisa Rp45.000," kata Max Powandu dari Wahana Visi Indonesia Area Development Program (ADP) Poso yang mendampingi kompas.com mencoba makanan tersebut di Rumah Makan Rajawali, dekat dari Jalan Potuja, Tentena, dua pekan lalu.
Dua puluh tahunan silam, sogili atau anguilla celebensis mudah didapat di danau yang berada di ketinggian 675 meter di permukaan laut ini. Sogili yang sekujur tubuhnya berlendir ditangkap nelayan setempat menggunakan jaring, tombak maupun jerat berbentuk huruf V berbahan dasar bambu.
Kini, ikan yang tubuhnya rata-rata dua kali lebih besar ketimbang lele yang dijumpai di warung-warung pecel lele Ibu Kota, sudah terhitung langka. Sogili yang pernah ditangkap mencapai panjang 1,8 meter dan berat 20 kilogram. Warga Tentena, sekarang, melakukan budidaya ikan ini di dalam karamba.
Catatan yang dikumpulkan kompas.com dari Irwan Bauda yang juga peneliti asal Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Poso pada 1983 pun menunjukkan sogili bersama dengan  ikan anasa (xenopoecillius oophorus), butingi (x poptae), padi (oryzias nigrimas), dan rono danau (oryzias ortognatus) adalah ikan endemik Danau Poso. Kelimanya sudah tergolong hewan langka.
Satu jenis ikan khas Danau Poso yang lainnya yakni bungu atau adrianictis kruity, pada tahun sama, malahan sudah dinyatakan punah. Tampaknya, ikan yang ukurannya 10-15 sentimeter itu mati karena getaran atau debu dari letusan Gunung Colo. Gunung yang letaknya tak jauh dari Danau Poso tersebut, tepatnya di Kabupaten Tojo Una-una, meletus pada tahun itu juga.
Tak cuma itu. Langkanya sogili juga disebabkan oleh perubahan ekosistem Danau Poso. Makin hari, makin banyak ikan dari luar daerah yang dimasukkan ke Danau Poso. Dalam hal ini, ikan mas atau karper (cyprinus carpio) serta ikan nila (oreochromis niloticus) yang dibudidayakan di situ justru menjadi predator bagi ikan-ikan endemik Danau Poso.
Lalu, ketiadaan kontrol terhadap penangkapan ikan-ikan endemik di danau yang kedalamannya mencapai 510 meter itu juga menjadi penyebab kelangkaan. Sudah begitu, reproduksi ikan-ikan dimaksud terhitung lamban. Soalnya, Setiap kali bertelur, ikan endemik di Danau Poso cuma mengeluarkan 20-25 telur. 
Tak kalah pentingya, pencemaran akibat sampah dan limbah rumah tangga di danau terbesar ketiga di Indonesia ini membuat jumlah ikan endemik makin ciut.
Nah, kembali ke menu, selain dibakar, sogili juga bisa direbus atau digoreng. Cuma, seturut pengakuan Max, sogili bakar paling digemari. Soalnya, rasanya lebih gurih dan kesat. "Mungkin lendir di tubuh sogili yang membuat rasanya enak," imbuh Max.
Proses pertama, setelah dibersihkan dan dipotong menjadi empat bagian atau sesuai selera, sogili dibakar di atas arang yang membara. Pada proses ini, belum ada bumbu yang ditambahkan.
Nanti, setelah matang, barulah sogili bakar diberi bumbu. Biasanya, bumbu yang dipakai adalah rica-rica atau dabu-dabu, lengkap dengan tambahan perasan jeruk nipis, potongan tomat, dan bawang merah. Kalau mau terasa manis, penikmat sogili biasanya menambahkan kecap manis pada bumbu sambal tersebut. 
Sogili yang tersaji dalam keadaan hangat itu menjadi teman makan nasi. Nikmat rasanya bila nasi yang dihidangkan juga dalam keadaan hangat.
Sementara itu, seperti halnya pecel lele, sogili juga dihidangkan dengan lalap sayuran mentah seperti selada air, timun, maupun kacang panjang serta kemangi. Menikmati sogili bakar, terlebih pada siang hari, sembari memandang indahnya Danau Poso adalah satu dari kekayaan kuliner Tanah Air yang tak ternilai.
 
http://www1.kompas.com/printnews/xml/2008/07/29/17034422/Sogili.Bakar.dari.Danau.Poso


Kepala Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Didik Wahju Hendro Tjahjo menambahkan, penyebab utama berkurangnya keanekaragam jenis ikan di suatu perairan adalah hilangnya habitat. Pembendungan Sungai Citarum seiring dibangunnya Waduk Ir H Djuanda (1967), Saguling (1985), dan Cirata (1987), merubah ekosistem perairan dari mengalir menjadi tergenang.




Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai dengan nilai sejarah, ekonomi, dan sosial yang penting ini sejak 2007 menjadi salah satu dari sungai dengan tingkat ketercemaran tertinggi di dunia. Jutaan orang tergantung langsung hidupnya dari sungai ini, sekitar 500 pabrik berdiri di sekitar alirannya, tiga waduk PLTA dibangun di alirannya, dan penggundulan hutan berlangsung pesat di wilayah hulu.


Hal senada dilontarkan Guru Besar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran Bandung Johan Iskandar mengatakan penelitiannya di awal 1990-an, menyebutkan ada 23  jenis ikan liar yang umum ditangkap penduduk lokal dari Sungai Citarum. Ikan itu antara lain sidhat, lika, kebogerang, hinur, arengan, genggehek, beunteur, lalawak, leat, berod, balidra, gabus, lais, jambal dan lemp.

Namun keberadaan ikan itu semakin hari semakin berkurang. Bahkan, ada banyak ikan yang dulu banyak ditemukan kini mulai jarang terlihat, seperti arengan, lempuk, balidra dan jambal. Penyebabnya perubahan kontur air sungai Citarum yang deras menjadi waduk yang berair tenang, pencemaran limbah pestisida lahan pertanian, limbah industri dan limbah rumah tangga. Tidak hanya itu, karena banyaknya jenis-jenis ikan yang hilang dapat pula menyebabkan  hilangnya berbagai pengetahuan lokal masyarakat, seperti pengetahuan tentang jenis-jenis ikan, kehidupan jenis-jenis ikan, teknik-teknik penangkapan ikan.
http://regional1.kompas.com/read/2011/05/01/13495482/Ikan-ikan.Pun.Kalah.di.Citarum



Segara Anakan Nyaris Tinggal Hikayat

PENANGKAPAN hiu dan lompatan lumba-lumba merupakan pemandangan paling disukai Kuswadi (30), warga Desa Majingklak, Kecamatan Kalipucang, Ciamis, Jawa Barat, kala mengarungi Laguna Segara Anakan di waktu kecil, sekitar 23 tahun silam. Kini, jangankan hiu dan lumba-lumba, ikan teri dan kepiting laut pun nyaris tak ada di laguna terbesar di Jawa itu. Bahkan, riwayat laguna nyaris tinggal hikayat.
Segara Anakan kini tak lebih sebagai bentangan tanah-tanah timbul di utara Pulau Nusakambangan. Sedimentasi besar-besaran telah mengubah bentang alam kawasan ini. Luasan laguna kini tak lebih dari 500 hektar, atau seperenam dari luas laguna tersebut pada 1984 yang kala itu 3.270 ha (data dari Departemen Pekerjaan Umum). Itu pun 70 persen adalah perairan dangkal yang kedalamannya 50 sampai 100 cm.
”Mungkin 10 tahun lagi saya tak menjadi nelayan lagi di sini karena laguna ini hilang. Berarti, saya harus siap-siap bekerja di daratan. Lihat saja, semuanya sudah jadi pulau. Padahal, lima tahun lalu saja belum parah kayak gini,” tutur Kuswadi getir, pertengahan Desember lalu.
Kekhawatiran itu barangkali mewakili kegundahan semua warga di sekitar laguna tersebut. Puluhan tahun mereka berharap ada penanganan terhadap sedimentasi di laguna, tetapi puluhan tahun pula nyaris tak ada langkah konkret dan signifikan untuk mengatasi masalah tersebut.
Solusi yang ada selama ini baru sebatas pertarungan konsep dan argumentasi. Beberapa konsep ditawarkan, mulai dari pembuatan tanggul di sisi kanan dan kiri Sungai Citanduy, pembuatan area penampung, pembiaran Segara Anakan sebagai daratan, hingga penyudetan Sungai Citanduy.
Kenyataannya, konsep-konsep tersebut hanya macan kertas. Memang, sejumlah instansi terkait sudah melakukan beberapa langkah penyelamatan itu, mulai dari pengerukan sampai pembuatan daerah tangkapan di hulu. Namun, upaya itu serasa berjalan bagaikan deret hitung dibanding laju sedimentasi Citanduy, Cimeneng, dan Cibereum yang kian tak terkendali.
Antara tahun 2000 dan 2005, tiga kali Segara Anakan dikeruk, yaitu di titik Plawangan, selatan Desa Karanganyar, dan dekat muara. Namun, hasil pengerukan nyaris tak berbekas. Plawangan yang merupakan gerbang pertemuan sungai dengan laut selatan bahkan kini nyaris tertutup sedimentasi.
Debit air
Pengamatan Kompas, kedalaman Plawangan hanya satu sampai lima meter. Padahal, saat ini musim hujan dan debit air Citanduy sedang besar-besarnya. Pada musim kemarau, perairan dangkal tersebut menjadi lumpur timbul. Pintu di Kabuyutan, 300 meter utara gerbang Plawangan, menyempit dari 500 meter menjadi 150 meter.
Menurut warga sekitar Laguna, laju penyempitan dan pendangkalan di Plawangan itu makin cepat dalam empat tahun terakhir. Kondisi tersebut menimbulkan dampak sangat besar bagi degradasi lingkungan di Segara Anakan. Kini, nyaris tak ada lagi ikan yang memijahkan telur di Segara Anakan karena kesulitan masuk ke darat.
Lumpur sungai juga tak dapat langsung meluncur ke laut lepas karena tertahan tumpukan sedimentasi. Gelombang laut di celah Plawangan semakin besar karena tertahan sedimentasi pula sehingga mempersulit nelayan melaut ke lepas pantai.
Dampak terbesar adalah laju sedimentasi di kawasan laguna kian cepat. Bekas pengerukan lumpur di dekat Desa Karanganyar kini tak ada lagi. Kawasan tersebut justru terus tumbuh menjadi lahan timbul. Bila hujan deras di hulu tiba, air masih menggenang, tetapi dengan kedalaman 50 cm.
”Di sini sudah dikeruk tiga kali. Tiap pengerukan, dulu, sampai 750.000 meter kubik pada tahun 2003. Sekarang lihat saja, sudah dangkal lagi,” ujar Suripto (45), warga Desa Karanganyar, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah.
Dampak besar lainnya adalah nyaris punahnya biota laut dan air payau di laguna ini. Sejak lima tahun terakhir, tak ada nelayan yang berburu ikan di laguna. Padahal, pada tahun 1980-an sampai 1990-an, hampir semua jenis ikan dapat ditangkap di laguna ini, mulai dari kerapu merah, cumi-cumi, gurita, bawal putih, kakap putih, layur, pari, sotong, Sidhat, hingga ikan hiu.
Ikan-ikan itu tak lagi menyambangi laguna ini karena desakan sedimentasi, hilangnya terumbu karang yang tertutup lumpur, dan rusaknya mangrove.
Hutan mangrove di wilayah itu kini tinggal 8.359 ha. Itu pun data tahun 2003. Padahal, tahun 1974 masih 15.551 ha. ”Berkurangnya luasan mangrove itu akibat pembalakan liar oleh warga di Segara Anakan maupun dari luar kawasan itu,” kata Kepala Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA) Cilacap Supriyanto. Dengan sulitnya pengendalian pembalakan mangrove, luasan hutan mangrove di kawasan ini sekarang diperkirakan jauh berkurang lagi.
Punahnya biota laut itu menjadi tekanan ekonomi yang sangat besar bagi 14.000 lebih warga di Kampung Laut dan Majingklak. Mereka tak lagi dapat menggantungkan diri hidup dari laguna. Sebagian nelayan yang mempunyai cukup modal memilih melaut ke laut lepas. Sebagian lainnya bercocok tanam di lahan timbul. Akan tetapi, bercocok tanam bukan hal yang mudah bagi mereka. Secara turun-temurun, mereka tak pernah mewarisi tradisi bertani. Akibatnya, hasil pertanian mereka tak produktif.
Ada pula warga yang nekat bercocok tanam di Pulau Nusakambangan. Hal itu mengancam kelestarian lingkungan dan ketersediaan air di pulau tersebut yang selama ini menjadi sumber utama air bersih warga Kampung Laut dan Majingklak.
Sedimentasi
Di sisi lain, sedimentasi kian tahun tak pernah surut. Bahkan, diyakini makin besar seiring kian rusaknya hutan dan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy, Cimeneng, dan Cibereum—tiga sungai besar yang bermuara ke laguna.
Supriyanto mengungkapkan, pada tahun 1984 luas Laguna Segara Anakan mencapai 2.906 ha. Pada tahun 1994 atau 10 tahun kemudian menyusut 1.331 ha menjadi 1.575 ha. Luasan tersebut kembali turun pada tahun 2005 atau 11 tahun kemudian menjadi 834 ha. Artinya, dalam kurun waktu 21 tahun, terjadi penyusutan luasan laguna 2.072 ha atau 98,6 ha per tahun.
Akan tetapi, dengan total sedimentasi yang masuk dari tiga sungai, yaitu Citanduy, Cimeneng, dan Cikawung yang mencapai lima juta meter kubik per tahun, diperkirakan luasan laguna saat ini kian menyempit lagi. Apalagi data laju sedimentasi itu dibuat tahun 1994.
Sebagai ilustrasi, menurut warga di laguna ini, sebelum tahun 2000-an, bila di hulu Citanduy hujan deras, seminggu kemudian banjir baru dirasakan di muara. Namun, kini, bila kawasan hulu Cintaduy hujan deras pada pagi hari, sorenya banjir langsung terjadi di muara dan membawa lumpur beribu-ribu meter kubik.
Terkait kerusakan di DAS, kata Supriyanto, BPKSA bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap, Pemprov Jateng, dan sejumlah kabupaten di wilayah DAS membuat daerah resapan serta tangkapan air. Penghijauan pun juga mulai dilakukan dengan menanam tanaman keras di pinggir sungai.
Sayangnya, gerakan tersebut jauh dari masif. Langkah lebih komprehensif tak kunjung dilakukan. Rencana penyudetan Sungai Citanduy yang diyakini sebagai solusi besar pun mengambang. Kekhawatiran konflik antarwarga di sekitar Segara Anakan dengan nelayan di Pangandaran lebih mengemuka.
Deputi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang Kependudukan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup Emil Agustiono menandaskan, masalah di kawasan Segara Anakan adalah masalah nasional.
Dia berharap semua pihak mau duduk bersama dan menyelesaikan masalah Segara Anakan dengan kepala dingin. Penyelamatan lingkungan demi kemaslahatan manusia dan kehidupan hayati lainnya harus menjadi titik tolak utama.
”Karena itu, penyelesaiannya harus bersama-sama, melibatkan semua instansi, wilayah, dan mitra kerja. Kami akan segera rapat koordinasi untuk mengatasi masalah ini,” tutur dia.Langkah konkret pemerintah dan semua pihak terkait tentunya sangat ditunggu realisasinya. Langkah konkret yang bukan sekadar proyek sesaat, tetapi tepat sasaran. (M Burhanudin)

http://sains.kompas.com/read/2009/01/27/0858297/Segara.Anakan.Nyaris.Tinggal.Hikayat



Sogili Dapat Investor



Budi daya ikan sogili atau sidat atau sejenis belut di Danau Poso bakal memperoleh kemajuan dengan kehadiran investor dari Singapura. "Kami akan melakukan budi daya dengan keramba," begitu kata Manajer Umum PT Ina Internasional Nevita Anastasia, Rabu (4/3).
Menurut Anastasia, bosnya, Liem Tin, yang juga presiden direktur perusahaan tersebut, mengunjungi Tentena, ibu kota Kecamatan Pamona Timur, dua minggu lalu. Kota kecil di tepi Danau Poso itu memang dikenal sebagai sentra penangkapan ikan sogili. "Dia sangat tertarik untuk membudayakan sogili," katanya.
Anastasia menambahkan, budi daya sogili dengan keramba dianggap pihaknya sebagai satu-satunya cara untuk mempercepat peningkatan kualitas hidup nelayan di Tentena. Nantinya, seluruh produksi akan diekspor ke negara-negara tujuan, seperti Taiwan, Hongkong, Jepang, China, dan beberapa negara Eropa.
Sebagai uji coba, bulan ini, terang Anastasia, pihaknya akan memasang sepuluh keramba. Upaya ini dijalankan dengan pendampingan nelayan lokal dan pemerintah setempat.
Di samping itu, lanjut Anastasia, pihaknya masih menanti pembukaan kembali penerbangan reguler dari dan ke Poso. Penerbangan ini dianggap penting untuk memastikan ekspor sogili dalam keadaan hidup.
Pasalnya, terlalu berisiko membawa sogili hidup dari Tentena untuk diterbangkan dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kalau dihitung waktu, perjalanan tersebut bisa memakan waktu lebih dari 24 jam.
  http://properti.kompas.com/index.php/read/2009/03/04/17005868/sogili.dapat.investor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar