Sabtu, 14 Mei 2011

SIDHAT SEGARA ANAKAN 6 - 海的孩子鳗鱼

SIDHAT SEGARA ANAKAN 6 - 海的孩子鳗鱼


Segara Anakan: 

Inkubator Ikan yang Mendangkal


 

Selama 100 tahun, 90% luasan Segara Anakan hilang dan menjadi daratan.

Siang itu, pelabuhan penyeberangan Seleko - Cilacap yang menurut petugas ASDP setempat biasanya sepi, terlihat ramai. Bersama rombongan Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia itu, TROBOS akan mengunjungi kawasan Segara Anakan (Jawa: lautan mini), sistem laguna terbesar di dunia yang kini nasibnya di ambang kehancuran karena sedimentasi. Belasan perahu nelayan pun disewa, ditambah satu perahu karet dari Polair. Tak lama kemudian deru mesin-mesin tempel 5,5 pk bersahutan.
Perahu-perahu itu pun berbaris, membelah teluk kecil dan memasuki jalur Kembang Kuning menuju Segara Anakan. Untuk diketahui, Segara Anakan ini telah terkenal jauh sebelum republik ini berdiri. Karena luasnya, orang Jawa sejak dulu memiliki ungkapan "ambane sasegara anakan" (luasnya sama dengan segara anakan) untuk menggambarkan luasnya suatu area. Pesona keindahan dan kekayaan alamnya (ikan) telah diabadikan penjajah Belanda ke dalam kartu-kartu pos yang diterbitkannya sejak akhir abad 19.
Tigaperempat jam kemudian, sampailah kami di sela-sela pulau mangrove. "Segaranya mana ?? " tanya seorang peserta kepada Dikin (40 th) pengemudi perahu. Ia pun menjawab,"Ya ini, segara anakan. Kita beruntung karena air sedang pasang sehingga bisa lewat. Kalau surut, perahu pasti kandas !?". Lho ?

Nilai Segara Anakan

Menurut Sukoco, Kasie Prasarana Wilayah Bappeda Jateng, kekayaan alam Segara Anakan hingga kini telah menghidupi lebih dari 14000 penduduk lokal yang tinggal disekitarnya, baik berupa potensi perikanan, eko-wisata, laboratorium alam, transportasi air, maupun mangrove. Hutan mangrove di kawasan ini mencapai 5000 ha Kawasan ini juga berfungsi sebagai buffer zone dan tampungan air.
Mengingat besarnya nilai Segara Anakan, pemerintah Kabupaten Cilacap kemudian membentuk Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA). Sebelumnya, pengelolaan dilakukan oleh Segara Anakan Conservation and Development Project (SACDP) yang bekerjasama dengan peneliti-peneliti dari Jepang, Jerman, dan Amerika.

Inkubator Perikanan

Segara Anakan pantas mendapatkan julukan sebagai inkubator perikanan laut selatan Jawa karena di sanalah tempat bertelur dan berkembang ikan dan udang. Buktinya, dialur bagian barat dan timur kawasan ditemukan sejumlah besar larva dan post larva ikan dan udang. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan siklus hidup antara ikan samudera dan laguna Segara Anakan. Contohnya, ikan Sidat yang biasa bermigrasi hingga samudra lain, ternyata ditemukan memijah di sini.
Ekosistem Segara Anakan terdiri dari perairan payau dan mangrove sehingga mampu menyediakan makanan dan kehidupan bagi ikan. Kawasan ini menjadi tempat berkembang 45 jenis ikan, baik ikan asli maupun migran. Biota asli Segara Anakan antara lain udang Jari (Penaeus elegans), ikan Boso, udang Putih (P. merguiensis), dan udang  Jerbung / Tiger (P. monodon). Selain itu, terdapat ikan-ikan kecil yang menjadi mata rantai jejaring kehidupan ikan-ikan besar di Samudera Hindia.

Sedimentasi

Tapi sayangnnya, keindahan-keindahan yang tergambar itu menyimpan sebuah fakta yang memiriskan hati. Lembaga-lembaga kelestarian lingkungan hidup dunia kini tengah resah terhadap laju sedimentasi Segara Anakan (SA) yang tak terkendali. Menurut Ir Tri Nurcahyo, konsultan SACDP, mereka menganggap SA merupakan aset ilmu pengetahuan dan lingkungan yang tak ada duanya. Pada 1984, pulau di tengah Segara Anakan hanya ada 5. Namun 10 tahun kemudian telah menjadi 12 buah. "Selama 100 tahun, 90% luasan Segara Anakan telah hilang dan menjadi daratan," katanya. Pada 1984, luas perairan Segara Anakan masih 2.905 ha, dan turun menjadi 2.803 pada 1985. Pada 2002, luasnya hanya tinggal 600 ha, sekarang tinggal 400 ha dengan kedalamannya hanya 1,5 m saat air surut sehingga mengkandaskan perahu yang melintas. "Bahkan jarak antara Pulau jawa dengan Nusakambangan yang dulu 2,5 km, kini tinggal 160 m, sehingga menimbulkan kerawanan, baik bagi perikanan maupun keamanan," tandas Nurcahyo.
Diperkirakan laju sedimentasi di catchment area sungai Citanduy (sungai yang bermuara di Segara Anakan) 5 juta m3 / tahun, dan diendapkan di Segara Anakan sebesar 740 ribu m3. Sungai Cibeureum juga mengendapkan 260 ribu m3 /th dari 770 ribu m3 sedimen yang digelontornya. Dalam sehari, sedimen yang dibawa kedua sungai itu mencapai 4000 m3 saat kemarau, dan melonjak hingga 12.000 m3 di musim hujan.
Satu-satunya cara yang efektif untuk menanggulangi sedimentasi ini adalah dengan membuat sudetan sungai Citanduy sepanjang 3 km agar sedimen tidak masuk Segara Anakan, dibarengi dengan rehabilitasi hutan sepanjang DAS Citanduy. Namun, cara ini ditentang keras oleh masyarakat Ciamis (Jabar) yang khawatir hal itu akan merusak Pantai Pangandaran. Menurut Nurcahyo, sebenarnya kekhawatiran itu tak beralasan karena berdasar pengalaman selama ini, porsi terbesar sedimen justru terbuang ke laut lepas. "Padahal, sebagian ikan-ikan di sana kan rantai hidupnya juga dari Segara Anakan. Tapi mereka menentang upaya penyelamatannya" sesalnya.
  http://www.trobos.com/show_article.php?rid=14&aid=535     



 

Kampung Laut Pun

Jadi Kampung Darat

SEPERTI umumnya rumah nelayan di kampung laut, tempat tinggal Sutawa di Dusun Karanganyar, Desa Ujungalang, yang berada di wilayah Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah, merupakan rumah panggung yang amat sederhana.Sebagian dinding terbuat dari anyaman bambu yang biasa disebut gedhek, bagian lainnya papan kayu albasia. Rumah itu ditopang tiang–tiang dari batang kayu tancang.

Di salah satu tiang yang kokoh menancap di dasar laut, seutas tali mengikat kuat sebuah perahu jukung yang khas nelayan tradisional kawasan ini.Dengan perahu itu Sutawa setiap hari menangkap ikan. Ia tidak perlu jauh-jauh mendayung perahu jukungnya, karena di Perairan Segara Anakan ikan dan udang sangat melimpah. Sekali melaut ia dapat menangkap 25-50 kilogram. Malah pada musim angin barat untuk memperoleh satu kuintal ikan tidaklah sulit.

Tapi itu cerita tempo doeloe, ketika Laguna Segara Anakan masih luas dan dalam. Saat itu Segara Anakan jadi habitat ikan, udang, kerang totok, kepiting, dan biota laut lainnya. Ketika perkampungan nelayan di sana masih berupa rumah –rumah panggung di atas laut. Ketika itu, hutan mangrove juga belum ditebangi untuk dijadikan kayu bakar atau perangkat rumah.

Kini laguna telah menyempit. "Airnya cethek (dangkal). Sekarang jika melaut harus benar-benar memperhitungkan waktu. Harus tahu kapan air pasang dan kapan surut. Salah perhitungan berarti harus bekerja keras menyeret perahu pulang. "Kalau lagi surut, kedalaman Segara Anakan hanya berkisar 0,5-0,75 meter," ujar Kenci (51) kepada Kompas.

DI Segara Anakan terdapat empat desa kampung laut. Masing–masing Desa Ujungalang tempat tinggal Sutawa, Ujunggagak dan Panikel di Kecamatan Kawunganten, serta Desa Pamotan di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Total penduduk kampung laut tidak kurang dari 14.000 jiwa. Desa-desa ini dikelilingi perairan dan hutan mangrove. Namun, rumah mereka yang dulu berupa rumah panggung di atas laut sekarang sudah hampir tidak dijumpai lagi. Meskipun demikian, julukan kampung laut tetap melekat. Perairan terus menyusut dan berubah menjadi daratan akibat endapan lumpur dari Sungai Citanduy dan sungai–sungai lain.
Bangunan–bangunan rumah pun berubah sejalan dengan bertambahnya tanah timbul (daratan). Dari rumah panggung kayu tancang menjadi rumah berdinding tembok dengan lantai keramik. Sebagian perumahan penduduk telah diterangi listrik tenaga surya. Lambat laut rumah papan mulai menghilang.

Sebagian penduduk berpindah pekerjaan dari nelayan menjadi petani, menggarap tanah-tanah timbul yang terus bertambah. Sebagian lainnya mencoba bertahan jadi nelayan.
Namun, belasan tahun terakhir semakin sulit mendapat tangkapan. "Untuk membawa dua hingga tiga kilo ikan kecil susahnya bukan main," tutur Kasan (43) warga Kampung Motean, Desa Panikel.
Bahkan, pada musim panen nelayan hanya dapat memperoleh tangkapan 25-30 kilogram ikaN.

Saat ini sebagian nelayan mengandalkan kepiting bakau sebagai tangkapan karena di pasaran harganya lumayan menggiurkan: Rp 25.000-Rp 30.000 per kilogram. Namun, kepiting bakau Segara Anakan mulai menyusut karena hutan mangrove habitat mereka ditebangi penduduk.
Sebenarnya kepiting tidak menghabiskan seluruh hidupnya di kawasan mangrove. Ia bertelur di lepas pantai. Setelah menetas, larva-larvanya menuju ke samudra. Tapi setelah tumbuh menjadi kepiting dewasa, ia memerlukan hutan bakau.
Kepiting-kepiting kecil itulah yang ditangkap nelayan, sehingga kepiting bakau lama kelamaan lenyap. Terlebih setelah kawasan hutan mangrove rusak dan Perairan Segara Anakan berubah jadi daratan akibat endapan lumpur.

Hilangnya hutan bakau juga mengurangi populasi ikan, udang, dan biota laut lainnya. Kawasan sisa-sisa hutan mangrove itu tidak lagi menjadi persinggahan burung bangau Australia yang akan bermigrasi, karena sudah sulit mematuk ikan atau udang.

Hasil survei yang dilakukan tahun 1980-an menunjukkan, di Segara Anakan terdapat 26 jenis tumbuhan mangrove dengan tiga jenis vegetasi (tumbuhan). Yang paling dominan adalah jenis api-api, bakau, dan tancang (Bruguiera gymnonthiza) yang sering dimanfaatkan penduduk untuk kerangka bangunan rumah panggung.

Mangrove memang merupakan ekosistem paling produktif di antara komunitas laut. Daun-daunnya yang rontok ke air dan kemudian melapuk merupakan tempat mencari makan serta tempat pemijahan berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut bernilai ekonomi tinggi. Kawasan ini berperan besar terhadap tingginya hasil perikanan di Laguna Segara Anakan.

Laguna yang saat ini luasnya tinggal 600 ha, pernah menyumbang tujuh persen dari total produksi udang di Perairan Cilacap. Tahun 1990 misalnya, hasil tangkapan udang dari Segara Anakan berkisar 830-an ton. Namun, tahun-tahun terakhir untuk mencapai angka 25 ton saja amatlah sulit.

PERUSAKAN hutan mangrove sudah berlangsung lama dan meningkat tajam pertengahan 1980-an. Penyusutan hutan ini secara signifikan diikuti penurunan hasil tangkapan ikan dan udang.
Perusakan hutan bakau tahun 1984 oleh penduduk di kampung laut tanpa disadari telah menyebabkan malapetaka dengan berjangkitnya penyakit malaria. Kejadian itu menelan korban 107 jiwa warga kampung laut, dan sekitar 345 orang lainnya dirawat di rumah sakit.
Penebangan kawasan hutan mangrove menyebabkan luas hutan ini terus menyusut. Hutan mangrove yang luasnya pernah mencapai 21.000 ha lebih kini diperkirakan hanya seluas 1.200 ha.

Bersamaan dengan menyusutnya hutan mangrove, perairan Segara Anakan ikut menyempit karena sedimentasi dari beberapa sungai yang bermuara di situ. Tak ada lagi mangrove yang menghambat sedimentasi, sehingga pendangkalan berlangsung amat cepat.
Citanduy misalnya, setiap tahun menyumbang sedikitnya 6,4 juta ton sedimen. Ini ditambah 1,5 juta ton sedimen dari Sungai Cimeneng. Erosi dari hutan Daerah Aliran Sungai Citanduy saat ini masuk kategori "berat dan sangat berat".
Menumpuknya sedimen Citanduy dan beberapa sungai lain selama bertahun-tahun mendangkalkan dan menyempitkan perairan. Dulu kedalaman Segara Anakan 8-10 meter, sekarang tak lebih dari 1,25 meter.

Tahun 1903 luas Segara Anakan masih 6.450 ha, tapi tahun 1998 luasnya tinggal 1.400 ha. Menurut citra satelit yang terekam September 2002, luasnya tinggal 600 ha.
Laguna Segara Anakan tinggal menunggu lenyap saja dari peta Kabupaten Cilacap. Tanpa upaya penyelamatan, dua-tiga tahun ke depan Laguna tersebut tinggal alur-alur sungai saja.
 
http://www.baksokubukanbaksomu.co.cc/2009/12/friday-september-29-2006-kampung-laut.html       


 

Segara Anakan, Cilacap:

Nikmati Laguna Nan Unik


Banyak daerah di Indonesia yang memiliki wilayah yang luas, namun tidak memiliki banyak obyek wisata. Cilacap adalah Kabupaten dengan wilayah paling luas di propinsi Jawa Tengah. Hanya saja nama penjara Nusa Kambangan sudah kepalang basah mencitrakan daerah ini sebagian daerah napi. Padahal ada kawasan Segara Anakan, sebuah hutan bakau yang luas yang menggoda siapa saja yang ingin menikmati petualangan bahari.

Segara Anakan adalah kawasan laguna unik seluas 40 ribu hektar di Pantai Selatan Pulau Jawa. Tidak hanya hutan bakau dengan keberagaman flora dan fauna, Segara Anakan menjadi tempat menarik bagi para nelayan yang tinggal di kampung ini. Serta gua yang dipercaya menjadi tempat tinggal para makhluk gaib.

Pelabuhan Sleko adalah gerbang utama, untuk memasuki kawasan wisata Segara Anakan. Segara Anakan guna dibagian belakang Pulau Nusa Kambangan dan untuk mencapainya bisa menggunakan perahu nelayan kecil atau compreng, yang tarifnya 50 hingga 100 ribu rupiah per orang.

Perjalanan sekitar 3 jam dari hulu hingga ke hilir. Hutan bakau mulai terlihat ketika memasuki sungai kecil. Disini laju perahu harus diperlambat agar tidak menabrak jajaran pohon bakau yang tumbuh dengan lebatnya. Hutan bakau tertata dengan rapi di area yang begitu luas, sekitar 9000 hektar.

Tidak jelas sejak kapan ada pemukiman nelayan di kawasan pesisir Segara Anakan. Jajaran perumahan sederhana yang berdiri tegak ini adalah pemukiman penduduk asli. Di kawasan ini yang namanya lebih dikenal dengan nama Kampung Laut, cukup sulit untuk menjangkaunya karena letaknya sangat terpencil.

Kami merapat di Kampung Laut, ujung Aru. Kesan terpencil begitu terasa. Kampung sangat sepi. Ada 3 desa di kampung ini. Bagi penduduk disini, Segara Anakan ibarat sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan dengan Kampung Laut. Penduduk disini sangat bergantung dengan laguna, yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Bila laguna ini tidak diselamatkan dari proses pendangkalan, maka sama saja kiamat bagi mereka. Kami bertemu dengan salah satu penduduk disini bernama Yani, yang tinggal bersama putranya, Ujang. Hidup mereka bergantung dari kepiting bakau, yang banyak hidup dikawasan ini.

Mereka biasanya mulai mengumpulkan dan melihat hasilnya pada malam hari. Mereka menjualnya hingga ke kota-kota besar seperti Semarang dan Jakarta. Harganya sekitar 40 hingga 50 ribu rupiah per kiloan dan menjadi 2 kali lipat bila kita menyantapnya di restaurant.

Hidup matinya Kampung Laut tergantung dari kepiting bakau, yang hidup disini. Mereka berharap harganya akan terus membaik di pasar. Yang barangkali mereka tidak tahu adalah sampai kapan kepiting ini beranak pinak, bila lingkungan kawasan Segara Anakan kian terancam.

Kampung Laut bukan akhir dari cerita tentang Segara Anakan. Sebagian kawasan ini masih diselimuti hal-hal yang gaib. Bagi sebagian orang yang pernah datang ke tempat ini. Di kawasan ini terdapat gua yang bernama Masigitsela, yang letaknya di kaki bukit Pulau Nusakambangan.

http://www.obrolin.com/archive/index.php/t-27884.html        






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar